Internationalmedia.co.id – News – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas ke titik didih setelah Presiden AS Donald Trump melontarkan ancaman keras untuk membombardir Iran hingga kembali ke "Zaman Batu". Ancaman ekstrem ini langsung dibalas oleh militer Iran dengan sumpah akan melancarkan serangan "menghancurkan" terhadap AS dan Israel, menandai eskalasi retorika yang mengkhawatirkan.
Dalam pidato utamanya yang membahas konflik Iran di Gedung Putih pada Rabu (1/4) malam, Presiden Trump mengklaim bahwa perang melawan Iran "hampir selesai" dan tujuan-tujuan strategis AS hampir tercapai. Ia memuji pasukan militernya atas "kemenangan luar biasa" di medan tempur yang disebutnya jarang terlihat sebelumnya. "Malam ini, saya senang untuk mengatakan bahwa tujuan-tujuan strategis inti hampir selesai," ujar Trump dalam pidato pertamanya secara prime-time sejak konflik pecah pada akhir Februari lalu.

Trump juga menegaskan bahwa AS telah melakukan segalanya terhadap Iran, mengklaim Angkatan Laut dan Angkatan Udara Iran telah hancur, serta rudal mereka hampir habis. "Secara keseluruhan, tindakan ini akan melumpuhkan militer Iran," sebutnya.
Namun, retorika Trump tidak berhenti di situ. Ia mengancam akan "menyerang setiap pembangkit listrik" di negara tersebut jika Iran tidak mencapai kesepakatan melalui negosiasi. Presiden AS itu bahkan memberikan sinyal bahwa Washington siap mengintensifkan respons militernya selama dua hingga tiga minggu ke depan, dengan ancaman yang lebih mengerikan. "Kita akan menyerang mereka (Iran) dengan sangat keras selama dua minggu hingga tiga minggu ke depan. Kita akan membawa mereka kembali ke Zaman Batu, tempat mereka seharusnya berada," tegasnya.
Menanggapi ancaman yang sangat provokatif tersebut, komando operasi militer Iran, Khatam Al-Anbiya, mengeluarkan pernyataan yang menantang. "Dengan keyakinan pada Tuhan Yang Maha Kuasa, perang ini akan berlanjut hingga kalian dipermalukan, dihina, dan menyesalinya secara permanen dan pasti, dan menyerah," bunyi pernyataan tersebut, seperti dikutip dari AFP pada Kamis (2/4/2026). Mereka juga berjanji akan ada "tindakan kami yang lebih menghancurkan, lebih luas, dan lebih destruktif" sebagai respons terhadap agresi AS.
Pernyataan saling ancam ini menandai eskalasi retorika yang signifikan antara kedua negara, menimbulkan kekhawatiran akan potensi konflik yang lebih luas di kawasan. Dunia kini menanti langkah selanjutnya dari Teheran dan Washington di tengah ketegangan yang kian memuncak.

