Presiden Amerika Serikat Donald Trump membuat pengakuan mengejutkan, menyatakan bahwa Washington tengah menjalin negosiasi dengan Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Qalibaf. Informasi ini, seperti dilaporkan Internationalmedia.co.id – News dari Anadolu Agency yang mengutip New York Post pada Selasa (31/3/2026), mengindikasikan adanya potensi kerja sama antara kedua negara. Trump memperkirakan hasilnya akan terlihat dalam waktu sekitar satu minggu. "Kita akan mengetahuinya," kata Trump, menambahkan, "Saya akan memberi tahu Anda dalam waktu sekitar seminggu."
Pengakuan ini menyusul pernyataan Trump sebelumnya yang menyebutkan AS sedang berbicara dengan "orang penting" di Iran tanpa merinci identitasnya, demi alasan keamanan. Ia bahkan mengatakan, "Saya tidak ingin mereka dibunuh." Laporan Politico pekan lalu juga mengindikasikan bahwa pemerintahan Trump secara diam-diam mempertimbangkan Qalibaf sebagai mitra potensial, bahkan sebagai pemimpin masa depan Iran.

Di sisi lain, Iran membantah adanya negosiasi langsung dengan Amerika Serikat, menegaskan bahwa kontak terakhir hanya sebatas pesan yang disampaikan melalui perantara. Trump sendiri menggambarkan situasi ini sebagai "pergeseran fundamental" dalam kepemimpinan Iran, di mana para pemimpin sebelumnya telah digantikan oleh figur-figur yang menurutnya "jauh lebih masuk akal" dan "lebih mudah diajak bekerja sama." Ia bahkan menyebutnya sebagai "perubahan rezim total karena rezim-rezim masa lalu telah lenyap dan kita berurusan dengan sekelompok orang baru."
Terkait Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, putra mendiang Ayatollah Ali Khamenei, Trump mengungkapkan bahwa sosok tersebut belum terlihat di depan umum dan diyakini mengalami luka parah. Ketika ditanya mengenai kondisi Mojtaba, Trump menyatakan Washington percaya ia mungkin masih hidup, namun dalam "kondisi yang sangat buruk."
Ketegangan di kawasan Timur Tengah semakin memanas pasca-serangan Israel dan AS terhadap Iran pada 28 Februari, yang mengakibatkan lebih dari 1.340 korban jiwa. Trump juga menyinggung serangan Iran terhadap infrastruktur regional, termasuk serangan di Kuwait dan Haifa, Israel, menjanjikan respons AS akan segera terlihat.
Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan pesawat tak berawak dan rudal yang menargetkan Israel, Yordania, Irak, serta negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS. Serangan balasan ini tidak hanya menimbulkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur, tetapi juga mengganggu pasar global dan jadwal penerbangan internasional.

