Internationalmedia.co.id – News – Sebuah insiden serius mengguncang Universitas Teknologi Isfahan di jantung kota Isfahan, Iran, ketika fasilitas pendidikan tersebut dilaporkan menjadi target serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel. Insiden yang terjadi pada Minggu (29/3) waktu setempat ini menyebabkan empat staf kampus mengalami luka ringan, memicu ketegangan yang semakin memanas di kawasan tersebut.
Keterangan resmi dari Universitas Teknologi Isfahan, yang dikutip oleh AFP, menyebutkan bahwa serangan tersebut tidak hanya melukai staf, tetapi juga menyebabkan kerusakan signifikan pada salah satu lembaga penelitian universitas serta beberapa struktur bangunan lainnya. Ini bukan kali pertama kampus tersebut menjadi sasaran; insiden hari Minggu menandai serangan kedua yang menargetkan institusi pendidikan ini oleh apa yang disebut universitas sebagai "agresor Zionis-Amerika" selama periode konflik.

Merespons eskalasi serangan ini, Garda Revolusi Iran segera mengeluarkan peringatan keras. Mereka mengancam akan melancarkan serangan balasan terhadap kampus-kampus Amerika Serikat yang berlokasi di wilayah Timur Tengah, menyusul hancurnya dua universitas di Iran akibat gempuran yang sama.
Dalam sebuah pernyataan yang disiarkan oleh media Iran dan juga dilansir oleh AFP, Teheran memberikan ultimatum kepada Washington. Pemerintah AS diberi batas waktu hingga Senin, 30 Maret, pukul 12 siang waktu Teheran, untuk secara resmi mengutuk pemboman universitas-universitas di Iran. Jika tidak, ancaman pembalasan terhadap institusi pendidikan AS di kawasan tersebut akan direalisasikan.
Sebagai langkah antisipasi, Iran juga mengeluarkan imbauan serius kepada seluruh elemen masyarakat. Mahasiswa, dosen, karyawan, serta warga yang tinggal di sekitar kampus-kampus AS di negara-negara Teluk diminta untuk menjaga jarak aman, setidaknya satu kilometer dari gedung-gedung kampus. Peringatan ini dikeluarkan mengingat banyak universitas Amerika yang memang memiliki cabang atau afiliasi di berbagai negara Teluk, menjadikan mereka potensi target jika ultimatum Iran tidak dipenuhi. Situasi ini menambah daftar panjang ketegangan geopolitik yang terus bergejolak di Timur Tengah.
