Ketegangan di Timur Tengah mencapai puncaknya setelah militer Iran mengeluarkan peringatan tegas. Hotel-hotel yang kedapatan menampung pasukan Amerika Serikat di kawasan tersebut kini berstatus sebagai target potensial serangan, seiring dengan eskalasi konflik antara Teheran dengan Washington dan Tel Aviv. Demikian dilaporkan Internationalmedia.co.id – News.
Juru bicara angkatan bersenjata Iran, Abolfazl Shekarchi, dalam pernyataannya kepada televisi pemerintah Iran pada Kamis (26/3), menegaskan bahwa setiap fasilitas akomodasi yang digunakan oleh tentara Amerika akan secara otomatis dianggap sebagai aset Amerika. "Ketika semua pasukan Amerika masuk ke sebuah hotel, maka dari perspektif kami, hotel itu menjadi milik Amerika," ujar Shekarchi.

Ia menambahkan, "Apakah kita hanya akan diam dan membiarkan Amerika menyerang kita? Ketika kita merespons, tentu saja kita harus menyerang di mana pun mereka berada," seperti dikutip kantor berita AFP pada Jumat (27/3).
Eskalasi konflik ini berakar dari serangan yang dilancarkan oleh Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Insiden tersebut menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dan memicu pecahnya perang skala penuh yang kini merambah ke berbagai penjuru Timur Tengah.
Sejak saat itu, Teheran telah melancarkan serangkaian serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel serta berbagai kepentingan Amerika Serikat di kawasan tersebut, menandai babak baru dalam dinamika geopolitik regional.
Pada hari yang sama, Kamis (26/3), Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, turut menyuarakan tudingan serius. Ia menuduh pasukan AS sengaja memanfaatkan warga sipil di negara-negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) sebagai "perisai manusia" untuk menghindari serangan.
Melalui unggahan di media sosial X, Araghchi menjelaskan, "Sejak awal perang ini, tentara AS melarikan diri dari pangkalan militer di negara-negara GCC untuk bersembunyi di hotel dan kantor." Oleh karena itu, ia secara eksplisit menyerukan kepada seluruh hotel di wilayah tersebut untuk menolak pemesanan kamar bagi pasukan Amerika Serikat. Kantor berita Iran, Fars, mengutip sumber anonim, melaporkan bahwa otoritas Iran telah mengirimkan "peringatan keras" kepada sejumlah hotel di kawasan itu, khususnya di Uni Emirat Arab dan Bahrain.
Lebih lanjut, laporan tersebut menambahkan bahwa militer Iran telah berhasil mengidentifikasi keberadaan pasukan AS yang menggunakan lokasi serupa di Suriah, Lebanon, dan Djibouti, memperluas cakupan potensi target.

