Internationalmedia.co.id – News melaporkan sebuah perkembangan penting di tengah ketegangan global. Otoritas Iran secara resmi telah memberikan izin bagi kapal-kapal tanker minyak Malaysia untuk melintasi Selat Hormuz, jalur pelayaran krusial yang sebelumnya nyaris tertutup. Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, segera menyampaikan apresiasi mendalam kepada Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, atas keputusan yang melegakan ini.
Anwar menjelaskan bahwa keberhasilan ini merupakan buah dari dialog intensif dengan berbagai pemimpin regional. Ia secara khusus menyebutkan pembicaraan dengan Presiden Pezeshkian, serta para pemimpin Mesir, Turki, dan sejumlah tokoh penting lainnya di kawasan Teluk.

Dalam siaran televisi nasional Malaysia, Anwar mengungkapkan bahwa proses pembebasan kapal-kapal tanker minyak Malaysia dan para kru yang terlibat kini sedang berlangsung. "Kami sekarang dalam proses melepaskan kapal-kapal tanker minyak Malaysia dan para pekerja yang terlibat sehingga mereka dapat melanjutkan perjalanan pulang mereka," ujar Anwar, seperti dikutip oleh kantor berita AFP pada Jumat lalu.
Ia kembali menegaskan rasa terima kasihnya kepada Presiden Iran. "Saya ingin mengambil kesempatan ini untuk berterima kasih kepada presiden Iran karena telah memberikan izin perjalanan lebih awal," tambahnya. Anwar juga menyoroti peran penting raksasa minyak Malaysia, Petronas, yang dengan produksi sekitar dua juta barel minyak per hari pada tahun lalu, menempatkan Malaysia dalam "posisi yang jauh lebih baik" di tengah krisis energi global.
Meskipun demikian, Anwar tidak luput memberikan peringatan. Ia menggarisbawahi potensi gangguan pasokan makanan dan kenaikan harga yang tak terhindarkan. "Harga-harga pasti akan naik," tegasnya, merujuk pada komoditas vital seperti pupuk, serta minyak dan gas.
Menyikapi tantangan ini, pemimpin negeri jiran itu juga mengumumkan serangkaian langkah mitigasi. Ini termasuk pengurangan kuota bahan bakar bersubsidi bagi warga negara Malaysia dan pembatasan pembelian solar baru di negara bagian Sabah dan Sarawak. Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk memperketat kontrol, mencegah penimbunan, dan memberantas penyelundupan bahan bakar bersubsidi.
Sebagai negara penghasil minyak dan gas yang signifikan, Malaysia tetap sangat bergantung pada Selat Hormuz untuk impor minyak mentah dari Timur Tengah. Selat strategis ini sebelumnya nyaris sepenuhnya ditutup oleh Iran sejak serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap negara tersebut pada 28 Februari lalu, yang memicu kekacauan di pasar energi global dan menjebak ratusan kapal tanker serta kapal-kapal lainnya, termasuk dari Indonesia, di perairan tersebut.

