Internationalmedia.co.id – News โ Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, baru-baru ini menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak sepenuhnya ditutup meskipun konflik di Timur Tengah memanas. Ia menyatakan bahwa jalur perairan vital tersebut hanya akan tertutup bagi pihak-pihak yang dianggap musuh. Pernyataan ini disampaikan pada Kamis (26/3/2026), di tengah kekhawatiran global akan stabilitas pasokan energi.
Araghchi menjelaskan bahwa dari sudut pandang Teheran, Selat Hormuz tetap terbuka bagi navigasi. "Selat Hormuz, dari sudut pandang kami, tidak sepenuhnya tertutup โ selat ini hanya tertutup bagi musuh," ujarnya seperti dikutip dari Aljazeera. Ia secara tegas menolak izin bagi kapal-kapal musuh dan sekutunya untuk melintas di perairan tersebut.

Namun, Araghchi menambahkan bahwa angkatan bersenjata Iran telah menyediakan jalur aman bagi kapal-kapal dari negara-negara sahabat. "Tidak ada alasan untuk mengizinkan kapal-kapal musuh kami dan sekutu mereka lewat," tegasnya, menggarisbawahi kebijakan selektif Iran terhadap akses ke selat tersebut.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur perairan yang sangat strategis, krusial bagi pasokan energi global. Sebelum konflik pecah, diperkirakan sekitar 20 juta barel minyak global melewati selat ini setiap harinya, menjadikannya arteri vital bagi perdagangan minyak dunia.
Akibat perang yang berkelanjutan di Timur Tengah, aktivitas perlintasan di Selat Hormuz telah dibatasi secara efektif sejak awal Maret. Pembatasan ini memicu gangguan signifikan pada rantai pasokan global, yang berujung pada peningkatan biaya pengiriman dan lonjakan harga minyak dunia, menciptakan tekanan ekonomi di berbagai negara.

