Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, baru-baru ini mengeluarkan pernyataan tegas mengenai dukungan abadi negaranya terhadap Rusia, menyebut komitmen tersebut sebagai tekad yang tak akan pernah goyah. Pernyataan ini mengemuka di tengah semakin menguatnya aliansi antara Pyongyang dan Moskow sejak invasi Rusia ke Ukraina pada tahun 2022. Internationalmedia.co.id – News mencatat bahwa Korea Utara telah berperan krusial dalam memasok pasukan darat serta berbagai sistem persenjataan untuk mendukung kampanye militer Rusia. Para pengamat internasional menilai pasokan ini merupakan barter strategis, di mana Korea Utara menerima imbalan berupa bantuan pangan dan teknologi militer dari Rusia.
Penegasan sikap ini disampaikan Kim tak lama setelah ia kembali diangkat sebagai Presiden Urusan Negara oleh badan legislatif Korea Utara, sebuah lembaga yang sering digambarkan sebagai ‘stempel karet’. Dalam pidatonya yang disiarkan oleh Kantor Berita Pusat Korea (KCNA), Kim pertama-tama mengungkapkan rasa terima kasihnya atas ucapan selamat terkait pengangkatannya kembali, sebelum kemudian menggarisbawahi pentingnya aliansi dengan Rusia.

Mengutip pernyataan Kim yang dimuat KCNA, ia menyatakan, "Saat ini, Republik Rakyat Demokratik Korea dan Federasi Rusia bahu-membahu bekerja sama erat demi mempertahankan kedaulatan kedua negara." Ia melanjutkan dengan penekanan, "Pyongyang akan senantiasa berdiri bersama Moskow. Ini adalah pilihan serta tekad kami yang tak akan pernah goyah."
Fondasi aliansi ini semakin kokoh dengan adanya pakta militer yang disepakati oleh Presiden Rusia Vladimir Putin dan Kim Jong Un saat kunjungan Putin ke Pyongyang pada Juni 2024. Perjanjian tersebut secara eksplisit mengikat kedua negara untuk segera memberikan bantuan militer "tanpa penundaan" apabila salah satu pihak menghadapi serangan.
Pernyataan Kim ini juga muncul di tengah kabar dari media pemerintah Belarusia yang menyebutkan bahwa Presiden Alexander Lukashenko akan melakukan kunjungan dua hari ke Korea Utara, dimulai pada hari Rabu. Kunjungan ini diyakini bertujuan untuk mempererat kerja sama bilateral, mengindikasikan semakin terbentuknya blok dukungan terhadap Rusia di tengah konfrontasi dengan Barat, mengingat ketiga negara tersebut memiliki pandangan yang sama dalam menentang pengaruh Barat.
Laporan dari badan intelijen Korea Selatan dan negara-negara Barat secara konsisten mengindikasikan bahwa Korea Utara telah mengerahkan ribuan personel militer ke Rusia, khususnya ke wilayah Kursk. Selain itu, Pyongyang juga diduga kuat telah memasok sejumlah besar amunisi artileri, rudal, dan sistem roket jarak jauh untuk mendukung operasi militer Moskow. Perkiraan dari Seoul menyebutkan bahwa sekitar 2.000 tentara Korea Utara telah gugur dan ribuan lainnya mengalami luka-luka dalam keterlibatan mereka di medan perang.

