Spekulasi mengenai calon pemimpin masa depan Iran kembali mencuat setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dikabarkan mengincar Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf. Sumber dari Politico, yang dikutip oleh Internationalmedia.co.id – News, menyebutkan bahwa Ghalibaf dipandang oleh sejumlah pejabat Gedung Putih sebagai mitra yang dapat diandalkan untuk memimpin Iran dan bernegosiasi dengan pemerintahan Trump.
Menurut laporan tersebut, pejabat Gedung Putih belum sepenuhnya berkomitmen pada satu nama, namun mengakui Ghalibaf sebagai "pilihan yang menarik" dan "salah satu yang paling berpengaruh". Trump sendiri pada Senin (23/3) menegaskan akan ada "perubahan rezim yang sangat serius" di Iran, yang menurutnya sudah dimulai karena "semua orang telah terbunuh" dari kepemimpinan sebelumnya.

Trump juga disebut tidak berencana merebut Pulau Kharg, pusat minyak utama Iran. Ia berharap pemimpin berikutnya akan membuat kesepakatan serupa dengan Wakil Presiden Venezuela saat itu, Delcy Rodriguez, yang mengambil alih setelah Presiden Nicolas Maduro ditangkap. "Ini semua tentang menempatkan seseorang seperti Delcy Rodriguez di Venezuela yang kita katakan, ‘Kami akan mempertahankan Anda di sana. Kami tidak akan menyingkirkan Anda. Anda akan bekerja sama dengan kami. Anda akan memberi kami kesepakatan yang baik, kesepakatan pertama tentang minyak,’" kutip seorang pejabat.
Namun, Mohammad Bagher Ghalibaf dengan tegas membantah adanya negosiasi dengan Amerika Serikat. Dilansir dari Al Jazeera dan AFP, Ghalibaf menolak laporan media AS yang menempatkannya sebagai tokoh sentral dalam pembicaraan tersebut. Ia bahkan mengecam taktik perang Trump di media sosial.
Dalam unggahan di platform X pada Senin (23/3), Ghalibaf menyatakan, "Tidak ada negosiasi yang dilakukan dengan AS, dan berita palsu digunakan untuk memanipulasi pasar keuangan dan minyak serta menghindari jebakan yang menjebak AS dan Israel." Pernyataan ini kontras dengan klaim Trump yang menyebut pembicaraan sedang berlangsung.
Siapakah sosok Mohammad Bagher Ghalibaf? Dilansir dari Al Jazeera, Ghalibaf lahir di kota Torqabeh pada tahun 1961, masa remajanya sangat dipengaruhi oleh Revolusi Islam Iran tahun 1979. Sebagai mantan pilot Angkatan Udara Iran, ia telah menduduki berbagai posisi kunci, termasuk kepala polisi, wali kota Teheran, dan sejak tahun 2020, menjabat sebagai Ketua Parlemen Iran.
Dipandang sebagai seorang garis keras, Ghalibaf telah beberapa kali mencalonkan diri sebagai presiden namun selalu gagal. Dalam pemilihan tahun 2024, ia berada di urutan ketiga, di bawah Masoud Pezeshkian dan Saeed Jalili. Kontroversi seputar potensi negosiasi ini menambah lapisan kompleksitas pada dinamika politik Iran dan hubungan tegangnya dengan Amerika Serikat.

