Internationalmedia.co.id – News – Washington DC. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membuat pernyataan mengejutkan dengan mengklaim telah bernegosiasi dengan Iran untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah. Namun, klaim ini langsung dibantah keras oleh pihak Iran, yang menegaskan tidak ada dialog langsung dengan Washington terkait penyelesaian permusuhan.
Menurut laporan CNN pada Senin (23/3/2026), Trump, melalui platform Truth Social-nya, menyatakan bahwa ia telah menunda ancaman serangan terhadap infrastruktur energi Iran selama lima hari. Keputusan ini, katanya, didasarkan pada "nada dan isi" percakapan yang "sangat baik dan produktif" yang berlangsung selama dua hari terakhir. "Saya dengan senang hati melaporkan bahwa Amerika Serikat, dan negara Iran, telah mengadakan percakapan yang sangat baik dan produktif mengenai penyelesaian lengkap dan total atas permusuhan kita di Timur Tengah," tulis Trump.

Penundaan serangan ini, lanjut Trump, bersifat bersyarat, menunggu keberhasilan pertemuan dan diskusi lanjutan yang dijadwalkan berlangsung sepanjang minggu. Sebelumnya, Trump mengancam akan menyerang pembangkit listrik Iran pada Senin malam jika negara itu tidak mengizinkan Selat Hormuz dibuka kembali. Padahal, hingga minggu lalu, Trump sempat menyatakan tidak tertarik pada gencatan senjata dengan Iran. "Kita bisa berdialog, tetapi saya tidak ingin melakukan gencatan senjata," ujarnya pada Jumat (20/3) sore.
Trump juga mengklaim negaranya sedang berbicara dengan "tokoh penting" dalam rezim Iran untuk mencoba mengakhiri perang, meskipun ia menegaskan bukan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Mojtaba Khamenei atau putranya. Utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner disebut terlibat dalam pembicaraan tersebut, namun identitas pihak Iran yang diajak berkomunikasi tidak disebutkan secara spesifik. "Kita telah melenyapkan kepemimpinan pada fase satu, fase dua, dan sebagian besar fase tiga. Tetapi kita berurusan dengan seorang pria yang saya yakini paling dihormati," kata Trump, mengacu pada pihak yang diajak bicara.
Kontras dengan klaim Trump, Iran membantah keras adanya negosiasi. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, kepada kantor berita resmi IRNA (dilansir Anadolu Agency, Selasa 24/3/2026), mengakui adanya pesan yang disampaikan melalui "negara-negara sahabat" dari AS yang meminta negosiasi. Namun, Baghaei menekankan bahwa Iran menanggapi sesuai "posisi prinsipnya," termasuk peringatan tentang "konsekuensi serius" jika infrastruktur vital negara diserang. Ia menegaskan, setiap tindakan yang menargetkan fasilitas energi Iran akan dibalas dengan respons "tegas, segera, dan efektif" oleh angkatan bersenjatanya.
Baghaei juga membantah bahwa negosiasi atau dialog apa pun dengan AS telah terjadi selama 24 hari terakhir sejak pecahnya apa yang ia sebut sebagai "perang yang dipaksakan." Ia menambahkan bahwa posisi Iran mengenai Selat Hormuz dan syarat-syarat untuk mengakhiri perang "tidak berubah."
Sementara itu, penasihat militer senior Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, Mohsen Rezaei, menegaskan bahwa perang dengan AS dan Israel akan terus berlanjut. Dalam pidato yang disiarkan televisi pada Senin (23/3), Rezaei bersumpah bahwa Iran akan terus berperang hingga menerima kompensasi penuh atas kerusakan yang dideritanya, semua sanksi ekonomi dicabut, dan jaminan internasional yang mengikat secara hukum diperoleh untuk mencegah campur tangan AS di Iran. Rezaei mengklaim bahwa "perang pada dasarnya telah berakhir" lebih dari seminggu yang lalu dan bahwa "Amerika Serikat siap untuk berhenti dan mengupayakan gencatan senjata," namun Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu "mendorong untuk melanjutkan."

