Close Menu
  • Amerika
  • Asean
  • Asia
  • Eropa
  • Timur Tengah
Facebook X (Twitter) Instagram
  • Amerika
  • Asean
  • Asia
  • Eropa
  • Timur Tengah
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
Internationalmedia.co.idInternationalmedia.co.id
  • Amerika
  • Asean
  • Asia
  • Eropa
  • Timur Tengah
Internationalmedia.co.idInternationalmedia.co.id
Home » Selat Hormuz Memanas Dunia Menanti Langkah Besar
Trending Indonesia

Selat Hormuz Memanas Dunia Menanti Langkah Besar

GunawatiBy Gunawati23-03-2026 - 18.45Tidak ada komentar3 Mins Read1 Views
Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Telegram Tumblr Email
Selat Hormuz Memanas Dunia Menanti Langkah Besar
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Dalam perkembangan terbaru terkait konflik Timur Tengah yang semakin memanas, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan telah melakukan pembicaraan penting mengenai urgensi pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur maritim vital di Iran. Lalu lintas di selat strategis ini telah anjlok hingga 95% sejak pecahnya perang Iran pada 28 Februari lalu, demikian diungkapkan oleh Internationalmedia.co.id – News, mengutip laporan BBC pada Senin (23/3/2026).

Juru bicara Downing Street, dalam pernyataan yang dikutip oleh internationalmedia.co.id, mengonfirmasi bahwa kedua pemimpin "sepakat akan krusialnya pembukaan kembali Selat Hormuz untuk menjamin stabilitas pasar energi global" selama percakapan telepon pada Minggu malam (22/3). Keduanya juga bersepakat untuk segera melanjutkan dialog.

Selat Hormuz Memanas Dunia Menanti Langkah Besar
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Diskusi tingkat tinggi ini berlangsung menjelang Starmer dijadwalkan memimpin pertemuan darurat Cobra. Pertemuan tersebut akan melibatkan tokoh kunci seperti Gubernur Bank of England Andrew Bailey, Menteri Keuangan, Menteri Luar Negeri, dan Menteri Energi. Agenda utama mencakup pembahasan dampak perang terhadap biaya hidup masyarakat, keamanan energi, serta efek krisis pada sektor bisnis dan rantai pasokan global, termasuk respons internasional yang diperlukan.

Sejak serangan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari, Teheran secara efektif telah memblokir Selat Hormuz. Jalur laut ini, yang biasanya menjadi koridor bagi sekitar 20% minyak dan gas alam cair dunia, kini lumpuh. Akibatnya, harga bahan bakar global melonjak tajam, dengan harga minyak mentah mencapai $106 per barel, naik 45% dari sebelumnya.

Ketegangan semakin memuncak setelah Presiden Trump, melalui unggahan media sosial pada Sabtu (21/3), mengancam akan "menghancurkan" pembangkit listrik Iran jika Selat Hormuz tidak dibuka dalam kurun waktu 48 jam. Ancaman ini segera dibalas oleh Teheran. Media pemerintah Iran melaporkan bahwa negara itu akan menargetkan lokasi energi yang terkait dengan AS di seluruh wilayah Teluk jika Washington menindaklanjuti ancamannya.

Menteri Perumahan Inggris, Steve Reed, dalam wawancara dengan BBC pada Minggu (22/3), menegaskan bahwa pemerintah telah mengambil langkah-langkah untuk mengatasi lonjakan tagihan energi, termasuk alokasi paket £53 juta bagi rumah tangga yang terdampak. Reed juga menyatakan bahwa "tidak ada penilaian spesifik bahwa Iran menargetkan Inggris—atau bahkan mampu melakukannya jika mereka mau." Pernyataan ini muncul di tengah laporan dari pasukan tentara Israel (IDF) pada Sabtu (21/3) yang menyebutkan bahwa Teheran memiliki senjata dengan jangkauan hingga 4.000 km. Sebelumnya, terungkap pula bahwa Iran telah menargetkan pangkalan militer gabungan AS-Inggris di Kepulauan Chagos, Samudra Hindia, yang berjarak sekitar 3.800 km dari Iran. Reed menolak memberikan "detail operasional" mengenai seberapa dekat rudal-rudal tersebut mendekati wilayah seberang laut Inggris, namun mengonfirmasi bahwa Iran menembakkan dua rudal balistik ke Diego Garcia—salah satunya gagal mencapai sasaran, sementara yang lain berhasil dicegat.

Sebagai bentuk dukungan krusial, pemerintah Inggris pada Jumat (19/3) telah menyetujui penggunaan pangkalan-pangkalan militernya oleh AS untuk melancarkan serangan terhadap situs-situs Iran yang menargetkan Selat Hormuz. Kebijakan ini menandai perubahan signifikan, mengingat sebelumnya Inggris hanya mengizinkan pasukan AS menggunakan pangkalan tersebut untuk operasi pertahanan guna mencegah Iran menembakkan rudal yang membahayakan kepentingan atau nyawa warga Inggris.

Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Gunawati
Gunawati

kontributor International Media yang berfokus pada peliputan berita dari kawasan Amerika dan Eropa. Ia secara rutin menyajikan analisis mengenai kebijakan luar negeri, isu-isu sosial, dan perkembangan politik di negara-negara Barat.

Related Posts

Filipina Kembali Pakai BBM Lama

23-03-2026 - 21.45

AS Bongkar Taktik Baru Iran Targetkan Sipil

23-03-2026 - 21.30

Kapal Induk Raksasa AS Mendadak Ditarik dari Timur Tengah

23-03-2026 - 21.15

Trump Tunda Serangan Iran Dialog Berhasil

23-03-2026 - 21.00

Peringatan Keras Iran Teluk Persia Siaga Penuh

23-03-2026 - 18.30

Rusia Ungkap Dua Hal Penting Setelah Ultimatum Trump

23-03-2026 - 18.15
Leave A Reply Cancel Reply

Internationalmedia.co.id
  • Privacy
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak
  • Tentang

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.