Internationalmedia.co.id – News – Di tengah memanasnya tensi di Timur Tengah, Rusia tampil menyerukan penyelesaian politik dan diplomatik. Seruan ini muncul setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengeluarkan ultimatum keras kepada Iran, mengancam akan melumpuhkan jaringan listrik negara itu jika Selat Hormuz tidak dibuka kembali dalam waktu 48 jam. Jalur perairan strategis tersebut diketahui telah ditutup sejak pecahnya konflik pada 28 Februari, menyusul pemboman yang dilakukan AS dan Israel terhadap Iran.
Menurut laporan AFP, ultimatum Trump yang menargetkan pembangkit listrik Iran tersebut berakhir pada Senin malam waktu AS. Ancaman ini datang sebagai respons terhadap penutupan Selat Hormuz, yang merupakan jalur pelayaran vital bagi minyak global.

Menanggapi situasi genting ini, juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, dalam sebuah konferensi pers menegaskan kembali posisi Rusia. "Kami percaya bahwa situasi tersebut seharusnya beralih ke penyelesaian politik dan diplomatik," kata Peskov. Ia menambahkan, "Ini adalah satu-satunya hal yang dapat secara efektif berkontribusi untuk meredakan situasi tegang yang kini telah berkembang di kawasan tersebut."
Lebih lanjut, Rusia, yang memiliki peran penting dalam pembangunan satu-satunya pembangkit listrik tenaga nuklir Iran yang beroperasi di Bushehr, juga mengeluarkan peringatan keras terhadap potensi serangan yang dapat membahayakan lokasi tersebut. Pekan lalu, Badan Pengawas Nuklir PBB (IAEA) mengumumkan bahwa fasilitas Bushehr telah terkena proyektil.
Peskov pada Senin (16/3) menyatakan kekhawatirannya, "Tentu saja, ini menimbulkan ancaman keamanan yang sangat serius jika tren ini berlanjut." Ia menekankan bahaya yang melekat pada serangan semacam itu: "Kami menganggap serangan terhadap fasilitas nuklir berpotensi sangat berbahaya dan penuh dengan konsekuensi, bahkan mungkin tidak dapat dipulihkan."
Rusia juga terus menjalin dialog dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) terkait pembangkit Bushehr. Kepala badan tersebut, Rafael Grossi, sebelumnya telah menyerukan "pengekangan selama konflik untuk menghindari risiko kecelakaan nuklir," sebagaimana disampaikan IAEA dalam sebuah pernyataan pekan lalu. Situasi di Timur Tengah kini berada di ujung tanduk, dengan seruan diplomasi dari Rusia menjadi penyeimbang di tengah ancaman militer yang terus meningkat.

