Sirene serangan udara meraung-raung di Yerusalem, diikuti oleh serangkaian ledakan yang mengguncang kota suci tersebut. Peristiwa mencekam ini terjadi setelah militer Israel mengeluarkan peringatan dini mengenai serangan rudal yang diluncurkan dari Iran. Internationalmedia.co.id – News melaporkan, insiden pada Minggu (22/3/2026) ini menambah daftar panjang ketegangan yang memuncak di kawasan Timur Tengah.
Dilansir dari laporan AFP, tentara Israel secara spesifik mengidentifikasi bahwa rudal-rudal tersebut "diluncurkan dari Iran menuju wilayah Negara Israel". Meskipun demikian, layanan medis darurat Magen David Adom Israel segera mengumumkan bahwa tidak ada laporan langsung mengenai korban jiwa setelah peringatan pertama dibunyikan.

Namun, militer Israel kemudian mengonfirmasi bahwa personel mereka sedang menangani "lokasi dampak" di wilayah Israel tengah. Media lokal menampilkan gambar kerusakan ringan pada sebuah jalan di kota Holon, dekat Tel Aviv, mengindikasikan bahwa beberapa proyektil berhasil mencapai target.
Serangan terbaru ini bukan insiden tunggal. Sebelumnya, pada Sabtu (22/3) malam, rudal-rudal Iran telah menghantam dua kota di Israel selatan, yaitu Dimona dan Arad. Dampak serangan tersebut jauh lebih parah, dengan laporan mengenai bangunan tempat tinggal yang hancur dan kawah besar yang terbentuk di tanah.
Pusat medis Soroka melaporkan telah merawat 175 orang korban dari serangan di selatan, di mana 10 di antaranya berada dalam kondisi serius, termasuk setidaknya satu anak. Televisi pemerintah Iran mengklaim bahwa serangan terhadap Dimona, yang merupakan lokasi fasilitas nuklir Israel, adalah respons langsung terhadap serangan sebelumnya di situs nuklir Natanz milik Iran.
Menyikapi serangkaian serangan ini, militer Israel menyatakan sedang melakukan investigasi mendalam mengenai kegagalan sistem pertahanan udara mereka dalam mencegat rudal-rudal yang datang. Insiden ini menyoroti kerentanan yang ada di tengah eskalasi konflik yang terus berlanjut antara kedua negara.

