Krisis energi global kian memanas setelah Iran memberlakukan blokade di Selat Hormuz, imbas dari konflik yang memanas dengan Amerika Serikat dan Israel. Awalnya, Teheran menegaskan jalur pelayaran vital ini hanya akan dibuka bagi negara-negara yang berani memutuskan hubungan diplomatik dengan Washington dan Tel Aviv. Namun, sebuah perkembangan mengejutkan muncul. Internationalmedia.co.id – News melaporkan adanya secercah harapan bagi Jepang dan Korea Selatan, dua sekutu dekat AS, untuk tetap bisa melintasi selat strategis tersebut.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dalam pernyataannya kepada Kyodo News Jepang yang dikutip AFP, menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak sepenuhnya tertutup. "Kami belum menutup selat tersebut. Menurut kami, selat tersebut terbuka. Selat itu hanya ditutup untuk kapal-kapal milik musuh kami, negara-negara yang menyerang kami. Untuk negara lain, kapal dapat melewati selat tersebut," ujar Araghchi, memberikan kejelasan mengenai posisi Teheran.

Araghchi lebih lanjut mengungkapkan bahwa Iran sedang dalam tahap diskusi intensif dengan Jepang untuk mencari solusi agar kapal-kapal mereka dapat melintas dengan aman. "Kami sedang berbicara dengan mereka untuk menemukan cara agar dapat melewati selat dengan aman. Kami siap menyediakan jalur aman bagi mereka," jelasnya. Pernyataan ini menyusul panggilan telepon antara Araghchi dengan Menteri Luar Negeri Jepang, Toshimitsu Motegi, di mana Tokyo menyuarakan keprihatinan mendalam atas banyaknya kapal Jepang yang kini terdampar di Teluk. Jepang sendiri sangat bergantung pada jalur ini, mengimpor lebih dari 90 persen minyak mentahnya dari Timur Tengah melalui Selat Hormuz. Jalur air tersebut secara de facto telah ditutup sejak Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari lalu.
Tidak hanya Jepang, Korea Selatan juga bergerak cepat. Pejabat Kementerian Luar Negeri Korea Selatan, seperti dilansir Yonhap, menyatakan bahwa Seoul secara aktif berkomunikasi dengan berbagai negara terkait, termasuk Iran, untuk memastikan normalisasi jalur pelayaran Selat Hormuz dapat segera terwujud. Langkah ini diambil setelah Teheran mengisyaratkan kesediaannya untuk mengizinkan kapal-kapal Jepang melintasi jalur laut yang sebelumnya tertutup akibat krisis regional.
Perubahan sikap Iran ini cukup signifikan. Sebelumnya, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) sempat mengeluarkan peringatan keras di awal konflik, mengancam akan membakar kapal apa pun yang mencoba melintasi jalur air tersebut, yang menyebabkan lalu lintas maritim nyaris terhenti. Namun, dalam sepekan terakhir, Teheran menunjukkan sinyal ‘melunak’. Sejumlah negara, termasuk sekutu dekat Amerika Serikat, kini aktif melobi Teheran untuk membuka kembali selat tersebut atau setidaknya mengizinkan kapal-kapal mereka melintas dengan aman.
Jepang, Prancis, Jerman, Italia, Belanda, dan Inggris, misalnya, telah mengeluarkan pernyataan bersama yang menegaskan kesiapan mereka untuk berkontribusi dalam upaya memastikan pelayaran yang aman melalui Selat Hormuz. Selain itu, laporan dari Lloyd’s, layanan informasi pelayaran dan maritim, menyebutkan bahwa Irak, Malaysia, Tiongkok, India, dan Pakistan juga telah mengadakan pembicaraan langsung dengan Teheran untuk membahas masalah krusial ini.

