Internationalmedia.co.id – News – Suasana Idulfitri 1447 Hijriah pada 20 Maret 2026 di Gaza, Palestina, diselimuti kepiluan mendalam. Warga menunaikan salat di tengah hamparan puing-puing bangunan yang luluh lantak, sisa-sisa agresi Israel. Momen sakral ini dijalani dengan khusyuk bersama keluarga, meskipun bayang-bayang genosida dan pengungsian terus menyelimuti kehidupan mereka.
Dilansir dari Al Jazeera dan AFP, perayaan Idulfitri di Gaza menjadi saksi bisu ketahanan luar biasa dari warga. Keluarga-keluarga berkumpul di ruang terbuka dan di luar masjid-masjid yang rusak parah untuk melaksanakan salat berjamaah. Terlepas dari kehancuran dan pengungsian massal, tradisi Idulfitri tetap dipertahankan dengan penuh keyakinan, menunjukkan semangat yang tak terpatahkan. Salat Idulfitri sendiri dipusatkan di Lapangan Al-Saraya Gaza, sebuah lokasi yang kini dikelilingi oleh bekas-bekas kehancuran.

Situasi di lapangan semakin diperparah dengan insiden kekerasan yang terjadi sehari sebelum Idulfitri. Badan pertahanan sipil Gaza melaporkan empat warga tewas akibat serangan udara Israel pada 19 Maret. Di sisi lain, militer Israel mengklaim telah melenyapkan empat individu yang mereka sebut mengancam pasukannya. Pertumpahan darah ini terus mengguncang wilayah yang porak-poranda akibat perang, bahkan setelah gencatan senjata diberlakukan sejak 10 Oktober. Pejabat senior Hamas, Ismail Radwan, memimpin salat di Al-Saraya, dengan pengamanan ketat dari anggota Brigade Ezzedine Al-Qassam dan Brigade Quds Jihad Islam yang ditempatkan di persimpangan jalan. Selain salat, sejumlah warga Palestina juga mengunjungi makam kerabatnya di Pemakaman Al-Saraya, melanjutkan tradisi di tengah duka. Laporan setempat mengungkapkan, lebih dari 1.100 dari sekitar 1.240 masjid di Gaza telah hancur sejak akhir tahun 2023.
Sementara itu, kondisi yang tak kalah memprihatinkan juga terjadi di Yerusalem Timur. Otoritas Israel melarang pelaksanaan salat Idulfitri di Masjid Al-Aqsa, dengan alasan pembatasan keamanan yang diberlakukan di tengah perang melawan Iran, demikian dilaporkan oleh Anadolu.
Menanggapi larangan tersebut, warga Palestina menyerukan jemaah untuk berkumpul di dekat Kota Tua, berupaya melaksanakan salat sedekat mungkin dengan Al-Aqsa sebagai penanda berakhirnya bulan puasa Ramadan. Sebelumnya, polisi Israel telah berulang kali menggunakan pentungan, granat suara, dan gas air mata terhadap warga Palestina yang salat di luar tembok Kota Tua sebagai bentuk protes atas pembatasan di Al-Aqsa selama Ramadan. Yerusalem Timur yang diduduki, yang biasanya ramai dengan hiruk pikuk warga Palestina beberapa hari sebelum Idulfitri, kini sunyi senyap, menyerupai kota hantu. Israel membatasi akses, melarang perkumpulan, dan memaksa toko-toko Palestina tutup, kecuali apotek dan toko makanan pokok. Para pedagang Palestina, yang menolak disebutkan namanya karena khawatir akan pembalasan Israel, mengungkapkan bahwa pembatasan ini telah menyebabkan mereka mengalami kesulitan ekonomi yang parah.

