Internationalmedia.co.id – News – Teheran. Di tengah memanasnya konflik dengan Amerika Serikat dan Israel, Iran akhirnya buka suara terkait nasib Selat Hormuz. Jalur perairan strategis yang menjadi urat nadi pasokan energi global ini dipastikan tidak akan ditutup secara total, melainkan hanya bagi pihak-pihak yang dianggap "musuh". Pernyataan ini muncul setelah kekhawatiran global atas terhambatnya lalu lintas kapal tanker yang dapat memicu krisis energi.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, pada Senin (16/3) waktu setempat, menegaskan bahwa beberapa kapal tanker minyak akan tetap diizinkan melintas. "Selat Hormuz hanya akan ditutup untuk musuh-musuh dan pihak-pihak yang mendukung agresi mereka," ujar Araghchi, memperjelas posisi Teheran di tengah gejolak regional.

Penegasan serupa juga disampaikan oleh Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, dalam pernyataan terpisah yang dikutip media lokal Teheran. "Kapal-kapal milik negara-negara yang tidak terlibat dalam perang telah diizinkan untuk melintasi Selat Hormuz dengan koordinasi dan izin dari militer Iran," kata Baghaei.
Selat Hormuz adalah arteri utama yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dan gas alam cair (LNS) dunia. Gangguan sekecil apa pun di jalur ini dapat memicu gejolak serius di pasar energi global. Sejak serangan besar-besaran oleh AS dan Israel lebih dari dua pekan lalu, lalu lintas maritim di Selat Hormuz memang melambat drastis, menyebabkan banyak kapal terdampar dan memicu kekhawatiran krisis energi.
Konteks ini semakin krusial mengingat Iran, sejak diserang secara besar-besaran oleh AS dan Israel lebih dari dua pekan lalu, telah melancarkan serangan balasan ke target-target di Israel, pangkalan AS, dan infrastruktur energi di negara-negara Teluk menggunakan rudal serta drone.
Namun, dalam beberapa hari terakhir, ada indikasi bahwa Iran mulai mengizinkan perlintasan terbatas secara selektif. Laporan dari TRT World, yang dikutip internationalmedia.co.id, menyebutkan bahwa kapal-kapal tanker dari India, Pakistan, Bangladesh, dan Turki termasuk yang diperbolehkan melintas dengan aman.
Sebagai contoh konkret, otoritas India mengonfirmasi bahwa dua kapal tanker mereka yang mengangkut gas minyak cair (LPG) berhasil melewati Selat Hormuz dengan selamat pada Sabtu (14/3) pagi. Sebuah kapal tanker berbendera Pakistan, bernama Karachi, yang dioperasikan Perusahaan Pelayaran Nasional Pakistan, juga sukses menyelesaikan perjalanannya melintasi selat tersebut pada Minggu (15/3). Demikian pula, kapal Turki bernama Rozana telah diizinkan melintas setelah Ankara mendapat persetujuan dari otoritas Teheran.
Situasi ini menunjukkan upaya Iran untuk mengelola krisis sambil tetap memberikan tekanan pada pihak lawan, tanpa sepenuhnya memutus pasokan energi global yang dapat memicu reaksi internasional yang lebih luas dan tidak diinginkan. Kebijakan selektif ini menjadi kunci dalam strategi Teheran di tengah eskalasi konflik yang terus berlanjut.

