Dalam langkah darurat yang mengejutkan, Uni Emirat Arab (UEA) secara resmi mengumumkan penutupan total wilayah udaranya. Keputusan drastis ini diambil di tengah eskalasi serangan balasan Iran yang menargetkan fasilitas Amerika Serikat (AS) di kawasan tersebut, demikian dilaporkan Internationalmedia.co.id – News. Otoritas Penerbangan Sipil Umum (GCAA) UEA mengonfirmasi kebijakan tersebut, yang berlaku sementara waktu dan penuh.
Dilansir dari laporan media pemerintah setempat pada Selasa (17/3/2026), langkah ini digambarkan sebagai ‘tindakan pencegahan luar biasa’. Tujuannya jelas: memastikan keselamatan penerbangan, melindungi awak pesawat, serta menjaga kedaulatan wilayah udara UEA dari potensi ancaman yang berkembang.

Kementerian Pertahanan UEA menyatakan pihaknya tengah merespons gelombang serangan rudal dan drone terbaru dari Iran. Selain penutupan wilayah udara, otoritas UEA juga berupaya keras memadamkan api yang berkobar di Zona Industri Minyak Fujairah. Lokasi vital ini menjadi sasaran serangan drone, memicu kekhawatiran akan stabilitas energi di kawasan.
Meskipun demikian, para pejabat UEA menegaskan bahwa hingga saat ini tidak ada laporan korban jiwa akibat insiden tersebut. Tim darurat telah dikerahkan dan sigap menangani situasi di lokasi kejadian, yang terletak sekitar 150 kilometer sebelah timur Dubai, memastikan penanganan cepat dan efektif.
Sebagai informasi latar belakang, konflik di kawasan Asia Barat ini memanas setelah serangan yang dilancarkan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Insiden tersebut dilaporkan telah menewaskan lebih dari 1.200 warga Iran, memicu gelombang kemarahan dan janji pembalasan.
Sebagai respons atas serangan tersebut, Iran melancarkan serangkaian serangan balasan menggunakan rudal dan drone. Targetnya mencakup Israel serta sejumlah fasilitas militer AS yang tersebar di Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Irak, Bahrain, dan Kuwait. Pihak AS sendiri mengklaim bahwa tujuh pasukannya telah gugur dalam eskalasi konflik yang terus memanas ini.

