Internationalmedia.co.id – News – Mojtaba Khamenei, pemimpin spiritual tertinggi Iran yang baru, mengeluarkan instruksi tegas kepada pasukannya untuk memberlakukan penutupan total Selat Hormuz. Ia mendesak seluruh jajarannya untuk mengambil langkah serius dalam memblokade jalur maritim krusial tersebut dari lalu lintas kapal internasional.
Menurut laporan yang diterima Internationalmedia.co.id pada Kamis (12/3/2026), pernyataan ini disampaikan Mojtaba Khamenei setelah ia kembali tampil di hadapan publik, menyusul spekulasi tentang cederanya akibat serangan udara. Dengan nada yang tak terbantahkan, ia menegaskan, "Pengungkit untuk memblokir Selat Hormuz harus benar-benar digunakan." Pernyataan ini merujuk pada jalur perairan strategis yang menjadi urat nadi bagi seperempat volume perdagangan minyak global via laut.

Lebih dari sekadar perintah blokade, Mojtaba, yang juga harus kehilangan ayahnya, Ali Khamenei, pemimpin sebelumnya, dalam gelombang awal serangan AS-Israel di fase awal konflik, secara terbuka menyerukan pembalasan dendam. "Saya bersumpah untuk membalas darah anak-anak dan cucu-cucu kita," ucapnya dengan penuh emosi. Selain itu, ia juga menuntut agar negara-negara di kawasan Teluk segera menutup pangkalan militer Amerika Serikat yang beroperasi di wilayah mereka.
Menanggapi titah dari pemimpin tertinggi, Korps Garda Revolusi Iran segera menunjukkan respons. Komandan Angkatan Laut, Laksamana Alireza Tangsiri, menegaskan komitmen mereka untuk melancarkan "pukulan terkeras kepada musuh agresor" seraya mempertahankan strategi penutupan Selat Hormuz.
Faktanya, sejak eskalasi serangan Iran, aktivitas pengiriman di sekitar Selat Hormuz memang nyaris lumpuh selama beberapa hari terakhir. Beberapa kapal yang nekat mencoba melintas dilaporkan menjadi sasaran di perairan Teluk, di lepas pantai Uni Emirat Arab dan Irak.
Di Washington, Presiden AS Donald Trump menghadapi tekanan politik yang masif seiring memburuknya dampak ekonomi global akibat krisis ini. Ia juga kerap melontarkan pesan-pesan yang membingungkan mengenai potensi berakhirnya kampanye udara AS. Ketika harga minyak global meroket hingga melampaui $100 per barel, Trump melalui platform media sosialnya menyatakan bahwa fokus utamanya sebagai Presiden adalah "menghentikan Kekaisaran jahat, Iran, agar tidak memiliki Senjata Nuklir, dan menghancurkan Timur Tengah dan, memang, Dunia."

