Ketegangan di Timur Tengah mencapai puncaknya, namun sebuah laporan intelijen terbaru dari Amerika Serikat mengungkapkan fakta mengejutkan. Meskipun telah dibombardir tanpa henti oleh AS dan Israel selama hampir dua minggu, kepemimpinan Iran sebagian besar tetap utuh dan tidak menunjukkan tanda-tanda akan tumbang dalam waktu dekat. Internationalmedia.co.id – News melaporkan, temuan ini diungkapkan oleh tiga sumber yang memiliki akses terhadap informasi tersebut, memberikan gambaran yang berbeda dari narasi konflik yang memanas.
Laporan intelijen tersebut secara konsisten menganalisis bahwa "rezim Iran tidak dalam bahaya untuk kolaps dan tetap mengendalikan publik Iran," kata salah satu sumber, seperti dilansir Reuters dan Al Arabiya pada Kamis (12/3/2026). Laporan ini, yang diselesaikan dalam beberapa hari terakhir, muncul di tengah meningkatnya tekanan politik terhadap Presiden Donald Trump terkait melonjaknya biaya minyak. Presiden Trump sendiri telah mengisyaratkan kemungkinan pengakhiran operasi militer terbesar AS sejak 2003 "segera."

Selain stabilitas rezim Iran yang tak terduga, beberapa peristiwa internasional lainnya juga menarik perhatian pembaca internationalmedia.co.id hari ini, Kamis (12/3/2026), yang mencerminkan dampak dan dinamika konflik global yang semakin kompleks.
Malaysia Ambil Langkah Penghematan Ekstrem
Salah satu dampak langsung dari potensi perang AS-Israel melawan Iran terasa hingga ke Asia Tenggara. Pemerintah Malaysia, di bawah Perdana Menteri Anwar Ibrahim, mengambil langkah penghematan signifikan. PM Anwar mengumumkan tidak akan ada acara open house untuk Hari Raya Idul Fitri dan mengurangi jumlah perjalanan ke luar negeri. Perusahaan-perusahaan terkait pemerintah dan perusahaan investasi yang terafiliasi juga diperintahkan untuk tidak mengadakan acara serupa, sebagai langkah hati-hati dalam mengelola dana di tengah dampak ekonomi perang di Timur Tengah.
DK PBB Desak Iran Hentikan Serangan ke Negara Teluk
Di panggung diplomasi, Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) tidak tinggal diam. Pada Rabu (11/3) waktu setempat, DK PBB mengesahkan resolusi yang menyerukan Iran untuk segera menghentikan serangannya terhadap negara-negara Teluk. Resolusi ini menegaskan bahwa serangan tersebut melanggar hukum internasional dan menimbulkan "ancaman serius terhadap perdamaian dan keamanan internasional." Resolusi disahkan dengan 13 suara setuju dan dua abstain, menandakan keprihatinan global yang mendalam terhadap eskalasi konflik.
Dua Kapal Tanker Minyak Diserang Dekat Irak, Satu Tewas
Kekerasan di Timur Tengah juga menelan korban. Serangan terhadap dua kapal tanker minyak di dekat Irak menyebabkan setidaknya satu awak kapal tewas. Farhan Al-Fartousi dari Perusahaan Umum Pelabuhan Irak mengonfirmasi kepada televisi pemerintah bahwa satu awak tewas dan 38 orang berhasil diselamatkan, sementara pencarian untuk yang hilang masih terus dilakukan. Rincian mengenai pelaku serangan dan kewarganegaraan korban belum diungkapkan, menambah misteri di tengah gejolak regional.
Pasukan Quds Iran Bersumpah Balas Dendam: "Kami Akan Buka Pintu Api!"
Sementara itu, di pihak Iran, Pasukan Quds dari Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) bersumpah untuk membalas tanpa henti serangan Amerika Serikat dan Israel. Dalam pernyataan pada Rabu (11/3) waktu setempat, Pasukan Quds berjanji akan "membuka pintu api bagi mereka dan tidak akan berhenti sampai musuh dikalahkan." Mereka menyebut serangan yang dimulai sejak 28 Februari itu sebagai pelanggaran hukum internasional dan nilai kemanusiaan, serta mengklaim serangan tersebut telah menyebabkan wafatnya Pemimpin Revolusi Islam Ayatollah Seyyed Ali Khamenei dan beberapa pejabat senior serta warga sipil Iran.
Perkembangan ini menggarisbawahi kompleksitas dan volatilitas situasi di Timur Tengah, di mana ketahanan rezim Iran berhadapan dengan tekanan militer dan diplomatik internasional, sementara dampaknya mulai terasa di berbagai belahan dunia, memicu langkah-langkah penghematan hingga seruan perdamaian global.

