Internationalmedia.co.id – News – Sebuah insiden serius mengguncang keamanan penerbangan di Timur Tengah ketika Bandara Internasional Kuwait dilaporkan menjadi target serangan beberapa drone. Peristiwa yang terjadi pada Kamis (12/3) ini menyebabkan kerusakan material signifikan pada fasilitas bandara, meskipun Otoritas Publik untuk Penerbangan Sipil Kuwait (DGCA) memastikan tidak ada korban jiwa dalam serangan tersebut.
Juru bicara DGCA, Abdullah al-Rajhi, melalui kantor berita pemerintah Kuwait, KUNA, menyatakan bahwa penanganan insiden ini telah dilakukan sesuai dengan protokol darurat yang telah diterapkan sejak awal krisis regional. "Koordinasi penuh dengan pihak berwenang terkait terus kami lakukan," ujar Al-Rajhi, seraya menegaskan komitmen otoritas untuk mengimplementasikan segala upaya demi menjaga keamanan dan keselamatan operasional penerbangan sipil di wilayah Kuwait. Laporan ini juga dilansir oleh Al Arabiya.

Serangan drone di Bandara Kuwait ini tidak lepas dari eskalasi konflik yang semakin memanas di Timur Tengah. Ketegangan regional mencapai puncaknya setelah pada 28 Februari lalu, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan masif terhadap Iran. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan pemimpin tertinggi Iran dan secara efektif memicu babak baru perang di kawasan tersebut.
Sebagai respons, Teheran telah melancarkan serangkaian serangan balasan menggunakan drone dan rudal di berbagai titik di seluruh wilayah, termasuk menargetkan negara-negara tetangga yang dianggap mendukung atau menjadi basis operasi musuh. Pangkalan-pangkalan militer Amerika Serikat dan Israel di kawasan tersebut juga tidak luput dari gempuran Iran sejak dimulainya agresi Israel dan AS terhadap target di Iran bulan lalu.
Ancaman balasan yang lebih keras telah disuarakan oleh Pasukan Quds, unit elit dari Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Pada Rabu (11/3), mereka bersumpah akan melancarkan pembalasan tanpa henti atas agresi berkelanjutan dari Amerika Serikat dan Israel. Dalam pernyataan tegasnya, Pasukan Quds menegaskan komitmen untuk "membuka pintu api bagi mereka dan tidak akan berhenti sampai musuh dikalahkan."
Pernyataan Pasukan Quds tersebut juga menggarisbawahi bahwa serangan AS-Israel yang dimulai pada 28 Februari merupakan pelanggaran berat terhadap hukum internasional dan nilai-nilai kemanusiaan universal. Mereka menyoroti bahwa agresi tersebut telah merenggut nyawa Pemimpin Revolusi Islam Ayatollah Seyyed Ali Khamenei, bersama dengan sejumlah pejabat senior dan warga sipil Iran lainnya.
Lebih lanjut, unit elit IRGC ini memperingatkan musuh bahwa "hari-hari kenyamanan mereka telah berakhir, dan bahwa mereka tidak akan aman di mana pun di dunia – bahkan di rumah mereka sendiri." Mereka bersumpah untuk tidak akan berhenti melawan "sampai kesombongan global dan Zionisme internasional dihilangkan, dan bahwa kami akan membalas dendam atas kaum tertindas dan para martir dari para penindas dan kaum yang sombong." Situasi ini menambah daftar panjang ketidakpastian dan potensi konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.

