Pemerintah Israel menegaskan tidak menginginkan konflik berkepanjangan dengan Iran, dan akan berkoordinasi erat dengan Amerika Serikat untuk menentukan kapan permusuhan akan diakhiri. Pernyataan ini disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar pada Selasa (10/3), meskipun ia menolak memberikan kerangka waktu spesifik secara terbuka. Internationalmedia.co.id – News melaporkan, perang antara AS-Israel dan Iran, yang kini memasuki hari ke-11, telah menciptakan gejolak di Timur Tengah, dengan serangan Iran yang juga menyasar negara-negara tetangga.
"Kami akan terus melanjutkan hingga saat kami dan mitra kami menganggap bahwa sudah tepat untuk berhenti," ujar Saar dalam konferensi pers di Yerusalem, bersama Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul yang sedang berkunjung. Ia menambahkan, "Kami tidak menginginkan perang tanpa akhir," seperti dilansir Al Arabiya pada Rabu (11/3/2026).

Israel menyatakan tujuannya adalah untuk mengakhiri dominasi ulama Iran dengan menghancurkan program nuklir dan rudal balistiknya. Selain itu, Israel juga berupaya menciptakan kondisi yang memungkinkan rakyat Iran untuk menggulingkan penguasa mereka. Saar melihat adanya peluang untuk menciptakan kondisi bagi rakyat Iran "merebut kembali kebebasan mereka," meskipun ia mengakui hal itu mungkin tidak terjadi selama perang dan bisa saja setelahnya.
"Kita tidak boleh melewatkan kesempatan ini dengan hasil yang parsial," tegasnya.
Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul, pejabat asing senior pertama yang secara terbuka mengunjungi Israel sejak perang dengan Iran dimulai, menyatakan keyakinannya bahwa Israel dan Washington terbuka terhadap solusi diplomatik yang dapat mengarah pada penghentian perang.
Namun, menurut Wadephul, solusi apa pun harus mencakup kesepakatan dengan Iran mengenai program nuklir dan rudalnya, serta dukungannya terhadap milisi regional. Syarat-syarat tersebut sebelumnya telah ditegaskan oleh Teheran bahwa mereka saat ini belum siap untuk menerimanya.

