Ketegangan di Timur Tengah kembali memuncak setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengeluarkan peringatan keras kepada Iran. Ancaman ini terkait potensi pemasangan ranjau di Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang menjadi urat nadi perdagangan minyak global. Dilansir Internationalmedia.co.id – News pada Rabu (11/3/2026), Trump menegaskan bahwa jika Teheran berani melakukan langkah tersebut, konsekuensi militer yang belum pernah terjadi sebelumnya akan menanti.
Melalui platform media sosial Truth miliknya, Trump secara gamblang menyatakan, ia belum menerima laporan konfirmasi mengenai Iran yang telah memasang ranjau. Namun, ia memperingatkan, "Jika karena alasan apa pun ranjau ditempatkan, dan tidak segera disingkirkan, konsekuensi militer bagi Iran akan berada pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya." Ia menambahkan bahwa tindakan Iran untuk segera menyingkirkan ranjau yang mungkin telah dipasang akan dianggap sebagai "langkah besar ke arah yang benar!"

Tidak hanya itu, Trump juga mengancam bahwa AS akan mengerahkan rudal yang sebelumnya digunakan untuk menghancurkan kapal-kapal yang diduga terlibat perdagangan narkoba di perairan Amerika Latin. Rudal-rudal ini, menurut Trump, akan digunakan untuk "menghilangkan secara permanen" kapal-kapal Iran yang terbukti memasang ranjau di Selat Hormuz. "Mereka akan ditangani dengan cepat dan keras. Waspada!" tegasnya dalam unggahan tersebut.
Unggahan Presiden Trump ini muncul tak lama setelah laporan dari CNN, yang mengutip sumber anonim yang mengetahui laporan intelijen AS, mengindikasikan bahwa Iran memang telah memulai proses pemasangan ranjau di Selat Hormuz. Jalur strategis ini, yang menjadi lintasan hampir seperlima produksi minyak global, dilaporkan mengalami gangguan signifikan pada lalu lintasnya menyusul sumpah Teheran bahwa tidak ada minyak dari wilayah Teluk yang akan melewati jalur air utama tersebut jika minyak mereka sendiri tidak dapat diekspor.
Sementara itu, Gedung Putih sebelumnya telah mengklarifikasi bahwa Amerika Serikat belum mengawal kapal tanker minyak apa pun melalui Selat Hormuz. Klarifikasi ini dikeluarkan setelah sebuah akun media sosial milik menteri energi sempat memposting, namun kemudian menghapus, klaim yang menyatakan sebaliknya.

