Situasi di Timur Tengah semakin memanas, mendorong Amerika Serikat mengambil langkah drastis. Washington secara resmi memerintahkan staf kedutaan non-darurat dan anggota keluarga mereka untuk segera meninggalkan Arab Saudi. Keputusan ini muncul di tengah serangkaian serangan Iran terhadap kerajaan tersebut, yang disebut sebagai balasan atas agresi AS dan Israel sebelumnya. Internationalmedia.co.id – News melaporkan perkembangan terbaru ini.
Menurut laporan kantor berita AFP yang dikutip internationalmedia.co.id, Departemen Luar Negeri AS merilis peringatan perjalanan yang tegas, menyatakan telah "memerintahkan para pegawai pemerintah AS non-darurat dan anggota keluarga pegawai pemerintah AS untuk meninggalkan Arab Saudi karena risiko keselamatan." Perintah ini menggarisbawahi kekhawatiran Washington yang mendalam terhadap potensi serangan Iran yang berkelanjutan. Presiden AS Donald Trump sendiri sebelumnya telah menegaskan kesiapannya untuk perang selama beberapa minggu ke depan, sementara Teheran juga menyatakan kesiapannya untuk merespons.

Langkah ini menandai peningkatan signifikan dari kebijakan sebelumnya, di mana AS hanya memberikan izin bagi staf non-esensial untuk pergi, namun tidak mewajibkan. Departemen Luar Negeri AS juga terus mengimbau warga negaranya untuk "mempertimbangkan kembali perjalanan" ke Arab Saudi, meskipun belum mengeluarkan larangan total untuk semua perjalanan ke kerajaan tersebut.
Serangkaian insiden telah memperburuk situasi. Pekan lalu, drone-drone Iran dilaporkan menghantam Kedutaan Besar AS di ibu kota Saudi, Riyadh. Serangan serupa juga menyebabkan kerusakan pada kedutaan AS di Kuwait dan Uni Emirat Arab. Yang terbaru, pada Minggu (8/3), otoritas Arab Saudi mengonfirmasi dua orang tewas dan 12 lainnya luka-luka setelah sebuah proyektil mendarat di provinsi Al Kharj.
Iran sendiri telah bersumpah akan membalas dendam setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan besar-besaran pada 28 Februari lalu, yang menewaskan pemimpin tertinggi negara itu, Ayatollah Ali Khamenei. Insiden tersebut menjadi pemicu utama serangkaian aksi balasan dari Teheran.
Di tengah ketegangan ini, perlu diingat bahwa sejumlah kerajaan Teluk, seperti Bahrain dan Qatar, merupakan sekutu erat Amerika Serikat dan menjadi lokasi pangkalan militer utama bagi pasukan AS. Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Sabtu lalu sempat menyampaikan permintaan maaf kepada negara-negara tetangga atas serangan yang terjadi. Namun, ia juga dengan tegas memperingatkan bahwa Iran "akan terpaksa membalas" jika wilayah negara-negara tersebut digunakan sebagai landasan untuk menyerang Iran.

