Internationalmedia.co.id – News – Pemerintah Rusia melayangkan kecaman keras terhadap Amerika Serikat dan sekutunya, Israel, menyusul serangkaian serangan militer yang mereka lancarkan terhadap Iran. Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov, memperingatkan bahwa intervensi ini justru berpotensi mendorong Teheran untuk mengejar program senjata nuklir, sebuah ironi mengingat tujuan yang diklaim oleh Washington.
Dalam konferensi pers pada Selasa (3/3), Lavrov secara gamblang menyatakan bahwa tindakan AS dan Israel akan memicu munculnya kekuatan di Iran yang mendukung pengembangan bom atom. "Karena AS tidak menyerang mereka yang memiliki bom nuklir," tegas Lavrov, seperti dikutip oleh media Al-Jazeera pada Rabu (4/3). Pernyataan ini menyiratkan bahwa kepemilikan nuklir dapat menjadi semacam jaminan keamanan dari serangan eksternal.

Lebih jauh, Lavrov mengemukakan kekhawatiran bahwa negara-negara Arab di kawasan tersebut kini dapat terdorong untuk bergabung dalam perlombaan senjata nuklir, menyusul perkembangan beberapa hari terakhir. Ia memperingatkan bahwa isu proliferasi nuklir berisiko lepas kendali. Di Timur Tengah, Israel secara luas diyakini sebagai satu-satunya negara yang memiliki kapabilitas nuklir, meskipun status tersebut tidak pernah secara resmi dikonfirmasi maupun disangkal.
Lavrov menekankan bahwa upaya untuk mencegah penyebaran senjata nuklir melalui jalur militer justru dapat memicu tren yang sepenuhnya berlawanan. Dalam konteks ini, Rusia telah menjalin komunikasi dengan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, pada Selasa (3/3), menegaskan kesiapan Moskow untuk memfasilitasi solusi diplomatik guna meredakan konflik.
Sebelumnya, saat AS dan Israel memulai serangan pertama mereka ke Iran pada Sabtu lalu, Kementerian Luar Negeri Rusia telah melontarkan tuduhan bahwa kedua negara tersebut melakukan "tindakan agresi bersenjata yang terencana dan tanpa provokasi terhadap sebuah negara anggota PBB yang berdaulat dan independen."
Kementerian itu juga menuding Washington dan Tel Aviv menyembunyikan niat sebenarnya untuk menggulingkan rezim di Teheran, "di balik kedok" negosiasi yang bertujuan menormalisasi hubungan. Rusia memperingatkan bahwa manuver ini dengan cepat menyeret kawasan menuju "bencana kemanusiaan, ekonomi, dan bahkan potensi bencana radiologis."
"Tanggung jawab penuh atas konsekuensi negatif dari krisis buatan ini, termasuk reaksi berantai yang tidak dapat diprediksi dan eskalasi kekerasan, sepenuhnya berada di pundak mereka," pungkas pernyataan dari Kementerian Luar Negeri Rusia, menyoroti urgensi situasi.

