Sebuah langkah mengejutkan datang dari Madrid. Pemerintah Spanyol secara tegas melarang Amerika Serikat (AS) menggunakan pangkalan militer gabungan di wilayahnya untuk melancarkan serangan terhadap Iran. Otoritas Spanyol bahkan mengecam keras apa yang disebutnya sebagai ‘perang’ yang dikobarkan AS dan Israel terhadap Teheran. Demikian dilaporkan Internationalmedia.co.id – News.
Menteri Pertahanan Spanyol, Margarita Robles, dalam pernyataannya kepada Politico pada Selasa (3/3), mengonfirmasi bahwa AS telah menarik sejumlah pesawat militernya dari pangkalan-pangkalan di Spanyol. Penarikan ini dilakukan setelah Madrid secara eksplisit melarang penggunaan fasilitas tersebut untuk operasi militer melawan Iran. Lebih dari selusin pesawat militer AS, termasuk pesawat tanker pengisian bahan bakar udara jenis Boeing KC-135, tercatat meninggalkan pangkalan udara Moron de la Frontera dan Rota pada akhir pekan lalu, menurut data pelacakan penerbangan FlightRadar24. Tujuh di antaranya terdeteksi menuju Pangkalan Udara Ramstein di Jerman.

Robles, dalam konferensi pers di Pangkalan Udara Armilla pada Senin (2/3), menegaskan bahwa setiap misi yang melibatkan pangkalan militer di Spanyol harus "beroperasi dalam kerangka hukum internasional." Ia menambahkan bahwa instalasi militer di wilayah Spanyol tidak akan diizinkan "memberikan dukungan kecuali jika diperlukan dari perspektif kemanusiaan." Menhan Spanyol itu menduga bahwa AS "kemungkinan melakukan langkah-langkah tersebut karena mereka mengetahui pesawat-pesawat itu tidak dapat beroperasi" dari wilayah Spanyol.
Perjanjian yang ditandatangani antara Spanyol dan AS pada tahun 1953 memberikan hak kepada Madrid untuk menentukan bagaimana penggunaan pasukan Amerika yang ditempatkan di wilayahnya. Robles secara tegas menyatakan bahwa pangkalan-pangkalan di Spanyol tidak berpartisipasi dalam serangan terhadap Iran pada Sabtu (28/2) dan tidak akan digunakan untuk "operasi pemeliharaan dan dukungan" terkait agresi semacam itu.
Meski demikian, Robles menekankan bahwa kebijakan Spanyol terkait penggunaan pangkalannya ini sama sekali tidak mencerminkan dukungan terhadap rezim Iran, yang ia gambarkan sebagai "mengerikan dan diktator." "Solusinya tidak pernah bisa berupa penggunaan kekerasan," tegasnya. Senada dengan Menhan, Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sanchez, menjadi salah satu pemimpin Uni Eropa yang paling vokal mengutuk serangan AS dan Israel terhadap Iran. Seperti dilansir Anadolu Agency, Sanchez menyebut serangan yang dilancarkan Washington secara terkoordinasi dengan Tel Aviv itu sebagai "pelanggaran hukum internasional."
PM Sanchez memperingatkan bahwa serangan semacam itu hanya akan berkontribusi pada "tatanan internasional yang lebih tidak pasti dan bermusuhan." Konsistensi sikap Madrid terlihat jelas, karena Spanyol juga mengutuk serangan pembalasan Iran terhadap negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS, menunjukkan penolakan terhadap segala bentuk kekerasan militer dalam penyelesaian konflik.

