Internationalmedia.co.id – News – Sebuah kapal tanker bahan bakar dilaporkan masih dilalap api di perairan strategis Selat Hormuz, setelah menjadi sasaran serangan drone Iran. Insiden ini terjadi di tengah memanasnya situasi di Timur Tengah, dengan Teheran menuduh kapal tersebut berupaya melintasi jalur vital tersebut secara ilegal.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengonfirmasi bahwa mereka telah menyerang kapal tanker bernama Athens Nova, yang disebut-sebut milik negara sekutu Amerika Serikat. Menurut laporan dari media lokal Iran, Press TV, dan kantor berita Turki, Anadolu Agency, pada Selasa (3/3/2026), kapal tersebut dihantam dua drone tempur Iran pada Senin (2/3) dan hingga kini api masih berkobar.

Selat Hormuz sendiri merupakan arteri vital bagi perdagangan global, mengelola sekitar seperlima dari total perdagangan minyak dunia dan volume ekspor gas alam cair yang signifikan dari Qatar serta Uni Emirat Arab. Sekitar 20 persen dari konsumsi minyak harian global, atau sekitar 20 juta barel, melewati koridor ini, menjadikannya titik rawan konflik geopolitik.
Serangan terhadap kapal tanker ini dilancarkan Iran sebagai balasan atas gelombang agresi terkoordinasi yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu (28/2) waktu setempat. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan sejumlah tokoh dan pejabat tinggi Teheran, termasuk pemimpin tertinggi negara itu, Ayatollah Ali Khamenei. Sebelumnya, Iran telah menutup Selat Hormuz sebagai respons atas serangan AS-Israel tersebut.
Sebagai bentuk pembalasan, Iran telah melancarkan serangkaian serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel serta negara-negara Teluk yang menjadi tuan rumah aset militer AS. IRGC dalam pernyataannya melaporkan bahwa Angkatan Lautnya telah melakukan serangan "tegas dan terarah" dengan meluncurkan 26 drone ofensif dan lima rudal balistik.
Target serangan Iran mencakup instalasi militer AS di Selat Hormuz, Kuwait, Uni Emirat Arab, dan Bahrain. Pangkalan AS Arifjan di Kuwait disebut dihantam 12 drone dalam dua tahap, sementara Pusat Komando dan Kontrol Militer AS di pangkalan Manhad, Uni Emirat Arab, diserang enam drone dan lima rudal balistik. Fasilitas Angkatan Laut AS di Bahrain, menurut IRGC, telah dihantam dan dihancurkan oleh enam drone.
IRGC menegaskan bahwa serangan-serangan ini merupakan respons atas gempuran AS-Israel dan pembunuhan Khamenei, yang mereka anggap sebagai pelanggaran berat terhadap kedaulatan Iran.
Otoritas Iran juga melaporkan bahwa setidaknya 555 orang tewas akibat serangan udara AS-Israel. Teheran mengklaim bahwa setidaknya 560 tentara AS tewas dan terluka akibat rentetan serangan balasan yang mereka lancarkan. Insiden ini semakin meningkatkan ketegangan di seluruh Timur Tengah, dengan potensi eskalasi yang lebih luas.

