Ketegangan di Timur Tengah memuncak setelah Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengeluarkan pernyataan keras menyusul serangan yang menyasar sebuah sekolah dan rumah sakit di Teheran. Internationalmedia.co.id – News melaporkan, Pezeshkian menegaskan negaranya tidak akan tinggal diam atau menyerah pada apa yang ia sebut sebagai kejahatan keji.
Melalui platform X, Pezeshkian menyerukan komunitas internasional untuk mengutuk keras insiden tersebut. "Serangan terhadap rumah sakit adalah serangan terhadap kehidupan itu sendiri. Serangan terhadap sekolah menargetkan masa depan suatu bangsa," tulisnya, menyoroti dampak kemanusiaan yang mendalam dari tindakan tersebut. "Iran tidak akan tinggal diam atau menyerah pada kejahatan ini," tambahnya, menandakan potensi respons serius dari Republik Islam.

Menurut klaim Iran, sebanyak 168 orang dilaporkan tewas dalam serangan di sebuah sekolah di wilayah selatan Teheran pada hari Sabtu. Namun, baik Amerika Serikat maupun Israel belum memberikan konfirmasi resmi terkait insiden ini. Sehari setelahnya, pada hari Minggu, Rumah Sakit Gandhi di Teheran juga menjadi sasaran serangan, menambah daftar panjang fasilitas sipil yang terdampak dalam konflik yang memanas.
Peringatan keras juga datang dari Garda Revolusi Iran (IRGC), yang menegaskan bahwa Amerika Serikat "tidak akan lagi aman" di mana pun di dunia. Pernyataan yang disiarkan oleh televisi pemerintah ini, dikeluarkan oleh Pasukan Quds Garda Revolusi – unit yang bertanggung jawab atas operasi luar negeri – menandai hari ketiga serangan gabungan AS-Israel terhadap Republik Islam tersebut. "Musuh harus tahu bahwa hari-hari bahagia mereka telah berakhir dan mereka tidak akan lagi aman di mana pun di dunia, bahkan di rumah mereka sendiri," demikian bunyi pernyataan tersebut, seperti dikutip oleh internationalmedia.co.id.

