Internationalmedia.co.id – News – Ketegangan di kawasan Teluk mencapai puncaknya setelah Iran melancarkan serangan rudal dan drone besar-besaran ke berbagai target. Aksi balasan ini menyusul serangan gencar Amerika Serikat (AS) dan Israel yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Sejumlah negara Teluk kini bersiaga, menegaskan akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan demi menjaga keamanan dan stabilitas regional mereka.
Presiden AS Donald Trump mengklaim operasi militer gabungan AS dan Israel terhadap Iran sebagai "kesuksesan luar biasa." Trump menyebutkan, sebanyak 48 pemimpin Iran tewas dalam serangan tersebut. "Tidak ada yang percaya dengan kesuksesan yang kita raih, sebanyak 48 pemimpin telah tewas dalam satu serangan. Dan ini berlangsung dengan cepat," ujar Trump dalam wawancara dengan media AS, Fox News, seperti dikutip AFP pada Senin (2/3).

Trump melanjutkan, operasi yang diluncurkan pada Sabtu (28/2) waktu setempat ini bertujuan menyingkirkan kepemimpinan Iran dan menghancurkan kekuatan militernya. Ia menilai situasi pasca-serangan sangat positif. "Kita melakukan pekerjaan kita bukan hanya untuk kita, tetapi untuk dunia. Dan semuanya berjalan lebih cepat dari jadwal," tambahnya dalam wawancara terpisah dengan media AS lainnya, CNBC. "Situasi saat ini berkembang dengan sangat positif, sangat positif," tandasnya.
Arab Saudi Cs Ambil Kesepakatan Bersama
Menyikapi eskalasi ini, negara-negara Teluk melalui Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) mengadakan pertemuan darurat via video pada Minggu (1/3). Para menteri luar negeri dari enam negara anggota—Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, Oman, Qatar, dan Kuwait—meninjau "kerusakan luas yang diakibatkan oleh serangan Iran yang berbahaya" dan merumuskan respons terpadu.
Dalam pernyataan bersama yang dirilis setelah pertemuan, dilansir Al Arabiya dan AFP, Senin (2/3), negara-negara Teluk menegaskan akan "mengambil semua tindakan yang diperlukan untuk mempertahankan keamanan dan stabilitas mereka serta untuk melindungi wilayah, warga negara, dan penduduk mereka, termasuk opsi untuk merespons agresi." Mereka juga menyerukan "penghentian segera serangan-serangan ini," menekankan bahwa stabilitas "kawasan Teluk bukan hanya masalah regional, tetapi pilar fundamental stabilitas ekonomi global."
Prancis Siap Bela Yordania dan Negara Teluk
Dukungan internasional pun mengalir. Pemerintah Prancis menyatakan kesiapan untuk membela negara-negara Teluk dan Yordania dari serangan Iran jika diperlukan. "Kepada negara-negara sekutu yang telah disengaja menjadi sasaran rudal dan drone Garda Revolusi (Iran) dan terseret ke dalam perang yang tidak mereka pilih — Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Irak, Bahrain, Kuwait, Oman, dan Yordania — Prancis menyatakan dukungan penuh dan solidaritas sepenuhnya," kata Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Noel Barrot, seperti dikutip AFP pada Senin (2/3).
Barrot menambahkan, sesuai perjanjian yang mengikatnya dengan para mitranya dan dengan prinsip pertahanan diri kolektif yang diatur dalam hukum internasional, Prancis siap untuk mengambil bagian dalam pertahanan mereka. Hal ini juga mempertimbangkan sekitar 400.000 warga negaranya yang tinggal atau berkunjung di kawasan tersebut. Sebelumnya, pada Minggu (1/3), Prancis bersama Jerman dan Inggris juga telah menyatakan kesiapan untuk membela kepentingan sekutu mereka di Teluk. Mereka menegaskan akan "mengambil langkah-langkah untuk membela kepentingan kami dan sekutu kami di wilayah tersebut, berpotensi melalui pengaktifan tindakan defensif yang diperlukan dan proporsional untuk menghancurkan kemampuan Iran untuk menembakkan rudal dan drone ke sumbernya."

