Ketegangan di Timur Tengah mencapai puncaknya setelah Arab Saudi berhasil mencegat dua drone yang menargetkan kilang minyak raksasa Ras Tanura di bagian timur negara itu. Internationalmedia.co.id – News melaporkan, insiden ini terjadi di tengah memanasnya situasi regional menyusul serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Menurut Juru Bicara Kementerian Pertahanan Saudi, Turki al-Maliki, puing-puing dari drone yang berhasil dilumpuhkan itu memicu "kebakaran terbatas" tanpa menimbulkan korban luka di kalangan warga sipil. Kilang Ras Tanura sendiri dikenal sebagai salah satu fasilitas penyulingan dan ekspor minyak terbesar di dunia, menjadikannya target strategis.

Serangan ini diyakini merupakan balasan Iran terhadap agresi Israel dan Amerika Serikat yang terjadi sejak Sabtu lalu. Teheran dilaporkan telah melancarkan serangkaian serangan drone dan rudal tanpa pandang bulu ke berbagai negara di Timur Tengah dan Teluk, termasuk Kerajaan Arab Saudi.
Kerajaan Saudi dengan tegas mengutuk serangan terhadap wilayahnya dan negara-negara Teluk lainnya. Mereka menegaskan hak untuk membela diri dan tidak menutup kemungkinan akan melakukan pembalasan.
Menyikapi eskalasi ini, Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) segera mengadakan pertemuan darurat melalui tautan video pada Minggu (1/3) waktu setempat. Pertemuan tersebut bertujuan untuk merumuskan respons terpadu dari enam negara anggota.
Para menteri luar negeri dari enam negara anggota GCC – Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, Oman, Qatar, dan Kuwait – yang semuanya telah mengalami dampak serangan balasan Iran, secara cermat meninjau "kerusakan luas yang diakibatkan oleh serangan Iran yang berbahaya" dan membahas langkah-langkah konkret untuk memulihkan stabilitas di kawasan tersebut.
Dalam pernyataan bersama yang dirilis setelah pertemuan tersebut, dilansir Al Arabiya dan AFP pada Senin (2/3/2026), negara-negara Teluk tersebut "akan mengambil semua tindakan yang diperlukan untuk mempertahankan keamanan dan stabilitas mereka serta untuk melindungi wilayah, warga negara, dan penduduk mereka, termasuk opsi untuk merespons agresi."
Pernyataan itu juga menyerukan "penghentian segera serangan-serangan ini," sembari menambahkan bahwa stabilitas "kawasan Teluk bukan hanya masalah regional, tetapi pilar fundamental stabilitas ekonomi global."

