Internationalmedia.co.id – News – Suara ledakan keras mengguncang ibu kota Arab Saudi, Riyadh, pada Minggu (1/3/2026), memicu kekhawatiran di tengah meningkatnya ketegangan regional. Insiden ini terjadi tak lama setelah Iran mengumumkan gelombang serangan balasan terhadap pangkalan militer Amerika Serikat di Timur Tengah.
Menurut laporan dari AFP yang dikutip oleh internationalmedia.co.id, ledakan dahsyat terdengar jelas di wilayah timur Riyadh. Sejumlah warga setempat melaporkan mendengar beberapa dentuman keras dan menyaksikan kepulan asap membumbung tinggi ke langit. Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari otoritas Saudi mengenai penyebab pasti atau sumber ledakan tersebut.

Insiden di Riyadh ini tak terlepas dari eskalasi konflik yang terjadi sebelumnya. Pada Sabtu (28/2), Amerika Serikat dan Israel melancarkan operasi militer gabungan bertajuk "Epic Fury" terhadap Iran. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan sejumlah tokoh penting Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, serta ratusan warga sipil lainnya, memicu kemarahan besar di Teheran.
Sebagai respons atas serangan "Epic Fury", Iran segera melancarkan serangan balasan pada Sabtu (28/2) dan melanjutkan gelombang serangan pada Minggu (1/3). Pada hari pertama pembalasan, Iran dilaporkan telah menargetkan Riyadh dan beberapa provinsi di wilayah timur Arab Saudi, mengklaim menyerang 27 pangkalan militer AS di kawasan tersebut.
Kerajaan Arab Saudi dengan tegas mengutuk serangan balasan Iran tersebut. Melalui Kementerian Luar Negerinya, Saudi menyatakan bahwa serangan-serangan itu berhasil dicegat dan menegaskan penolakannya terhadap segala bentuk penggunaan wilayah udaranya untuk menargetkan Iran. "Serangan-serangan ini tidak dapat dibenarkan dengan dalih atau cara apa pun, dan terjadi meskipun otoritas Iran mengetahui bahwa Kerajaan telah menegaskan tidak akan mengizinkan wilayah udara atau teritorialnya digunakan untuk menargetkan Iran," demikian bunyi pernyataan resmi dari Riyadh.

