Internationalmedia.co.id – News – Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara tegas menuduh Iran tengah gencar mengembangkan teknologi rudal jarak jauh yang berpotensi mencapai daratan Amerika Serikat. Klaim ini mengemuka, menyoroti kemampuan persenjataan canggih yang saat ini hanya dikuasai segelintir negara di dunia.
Dalam pidato kenegaraannya pada Selasa (24/2) waktu setempat, seperti dilansir kantor berita AFP pada Rabu (25/2/2026), Trump menyatakan, "Mereka telah mengembangkan rudal yang dapat mengancam Eropa dan pangkalan kita di luar negeri, dan mereka sedang berupaya membuat rudal yang akan segera mencapai Amerika Serikat." Pernyataan ini sontak memicu kekhawatiran global akan eskalasi ketegangan.

Sebelumnya, pada tahun 2025, Badan Intelijen Pertahanan AS (DIA) pernah mengindikasikan bahwa Iran memiliki potensi untuk mengembangkan rudal balistik antarbenua (ICBM) yang secara militer layak pada tahun 2035. Namun, laporan tersebut disertai catatan penting: hal itu hanya akan terjadi "jika Teheran memutuskan untuk mengejar kemampuan tersebut." Hingga kini, DIA belum mengonfirmasi apakah keputusan strategis tersebut telah diambil oleh Iran.
Menurut data dari Dinas Penelitian Kongres AS, Teheran saat ini memang memiliki rudal balistik jarak pendek dan menengah dengan jangkauan maksimum sekitar 1.850 mil atau setara 3.000 kilometer. Jarak ini masih jauh dari daratan utama Amerika Serikat yang membentang lebih dari 6.000 mil dari titik terbarat Iran, mengindikasikan adanya kesenjangan signifikan dalam kemampuan jangkauan saat ini.
Di tengah ketegangan ini, Washington dan Teheran sebenarnya telah menuntaskan dua putaran perundingan. Pembicaraan tersebut berfokus pada upaya mencapai kesepakatan baru terkait program nuklir Iran, sebagai pengganti perjanjian sebelumnya yang dibatalkan oleh Trump pada masa jabatan pertamanya.
Amerika Serikat secara konsisten mendesak Iran untuk menghentikan pengayaan uraniumnya. Tidak hanya itu, pemerintahan Trump juga berupaya keras menekan program rudal balistik Iran serta dukungannya terhadap kelompok-kelompok bersenjata di wilayah tersebut. Namun, semua tuntutan ini secara tegas telah ditolak oleh Iran.
Sebagai bentuk tekanan, Trump telah mengerahkan kekuatan militer AS yang signifikan ke Timur Tengah, termasuk dua kapal induk, lebih dari selusin kapal perang, sejumlah besar pesawat tempur, dan berbagai aset strategis lainnya. Ia juga berulang kali melontarkan ancaman serangan militer terhadap Iran, jika perundingan gagal mencapai kesepakatan baru. Sementara itu, pembicaraan dengan Teheran dijadwalkan akan berlanjut pada Kamis (26/2) besok, menjadi momen krusial di tengah ketegangan yang memanas.

