Ketegangan di Timur Tengah kembali memuncak setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) meluncurkan serangkaian latihan militer di Selat Hormuz. Aksi ini berlangsung di tengah pengerahan kekuatan angkatan laut Amerika Serikat (AS) yang signifikan ke wilayah tersebut, demikian dilaporkan Internationalmedia.co.id – News. Langkah ini menambah panas situasi menjelang perundingan penting antara Teheran dan Washington.
Latihan perang yang durasinya tidak disebutkan ini, menurut media pemerintah Iran, dirancang untuk mempersiapkan Garda Revolusi menghadapi "potensi ancaman keamanan dan militer" di jalur air strategis tersebut. Selat Hormuz sendiri merupakan urat nadi vital yang dilewati sekitar 20% produksi minyak dunia, dan para politisi garis keras Iran telah berulang kali mengancam akan memblokirnya. Jenderal Mohammad Pakpour, Kepala Garda Revolusi, secara langsung mengawasi latihan ini, yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan reaksi cepat IRGC sebagai sayap ideologis militer Iran.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump telah meningkatkan tekanan terhadap Iran dengan mengerahkan "armada" angkatan laut yang substansial ke kawasan itu. Setelah mengirim kapal induk USS Abraham Lincoln beserta kapal perang pengawalnya ke Teluk pada Januari, Trump pada Jumat (13/2) mengumumkan bahwa kapal induk kedua, USS Gerald R. Ford, akan segera berlayar menuju Timur Tengah. Pengerahan kekuatan ini jelas merupakan bagian dari strategi Washington untuk menekan Teheran agar mencapai kesepakatan.
Manuver militer dari kedua belah pihak ini terjadi saat Teheran dan Washington bersiap untuk putaran pembicaraan baru di Jenewa pada Selasa (17/2), yang dimediasi oleh Oman. Diskusi sebelumnya sempat dilanjutkan pada 6 Februari di Oman, menandai pertemuan pertama sejak diplomasi terhenti pada Juni tahun lalu.
Hubungan antara kedua negara, yang telah bermusuhan selama empat dekade, kembali tegang setelah diplomasi terhenti akibat perang Iran-Israel. Konflik tersebut menyebabkan Israel dan AS melancarkan serangan terhadap fasilitas nuklir Iran, semakin memperumit upaya untuk mencari solusi damai. Dengan pengerahan kekuatan militer yang masif dan ancaman yang saling dilontarkan, Selat Hormuz kini menjadi titik fokus ketegangan global. Hasil dari perundingan di Jenewa akan sangat menentukan apakah eskalasi ini dapat diredakan atau justru semakin memanas.

