Internationalmedia.co.id – News Situasi di Jalur Gaza kembali memanas setelah serangkaian serangan Israel dalam 24 jam terakhir merenggut sedikitnya dua belas nyawa warga sipil. Insiden ini terjadi di tengah kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat, memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik yang lebih luas.
Meskipun fase kedua gencatan senjata telah dimulai sejak bulan lalu, kekerasan di wilayah Palestina tersebut tak menunjukkan tanda-tanda mereda. Pasukan Israel dilaporkan terus melancarkan operasi militer dan serangan udara di berbagai titik di Gaza.

Berdasarkan keterangan dari badan pertahanan sipil setempat, yang berfungsi sebagai tim penyelamat di bawah administrasi Hamas, salah satu insiden fatal terjadi di tenda pengungsian di Gaza utara, sementara serangan lain menyasar wilayah selatan.
Rincian korban menunjukkan lima orang tewas dan beberapa lainnya luka-luka ketika serangan udara Israel menghantam tenda pengungsian di Jabalia, Gaza utara. Di lokasi terpisah, lima warga sipil lainnya kehilangan nyawa dan sejumlah orang terluka dalam serangan fajar di kota Khan Yunis, Gaza selatan.
Selain itu, badan pertahanan sipil Gaza juga mencatat satu korban tewas akibat penembakan pasukan Israel di Kota Gaza, serta satu orang lainnya tewas di Beit Lahia, Gaza utara, juga akibat tembakan Israel. Total korban tewas dalam kurun waktu sehari mencapai dua belas orang.
Pihak rumah sakit Al-Shifa dan Nasser mengonfirmasi telah menerima setidaknya tujuh jenazah korban dari berbagai insiden tersebut, menambah daftar panjang penderitaan warga Gaza.
Osama Abu Askar, yang kehilangan keponakannya dalam serangan di Jabalia, menyuarakan kekecewaannya. "Israel tidak memahami gencatan senjata atau perdamaian," ujarnya. Ia menambahkan dengan nada pilu, "Warga Gaza dibunuh saat mereka tidur."

