Close Menu
  • Amerika
  • Asean
  • Asia
  • Eropa
  • Timur Tengah
Facebook X (Twitter) Instagram
  • Amerika
  • Asean
  • Asia
  • Eropa
  • Timur Tengah
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
Internationalmedia.co.idInternationalmedia.co.id
  • Amerika
  • Asean
  • Asia
  • Eropa
  • Timur Tengah
Internationalmedia.co.idInternationalmedia.co.id
Home » Zelensky Bongkar Tekanan AS Mengejutkan
Trending Indonesia

Zelensky Bongkar Tekanan AS Mengejutkan

GunawatiBy Gunawati15-02-2026 - 18.00Tidak ada komentar3 Mins Read2 Views
Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Telegram Tumblr Email
Zelensky Bongkar Tekanan AS Mengejutkan
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Munich – Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, secara terbuka mengungkapkan rasa frustrasinya terkait perundingan damai yang dimediasi Amerika Serikat dengan Rusia. Ia merasa Ukraina terlalu sering didesak untuk membuat konsesi, sementara tekanan serupa kurang diberikan kepada Rusia. Pernyataan ini disampaikan Zelensky di Konferensi Keamanan Munich tahunan pada Sabtu (14/2), seperti dilansir Internationalmedia.co.id – News pada Minggu (15/2/2026).

Dalam forum bergengsi tersebut, Zelensky menyatakan harapannya agar perundingan yang akan datang membuahkan hasil signifikan. Saat ini, Presiden AS Donald Trump tengah berupaya menengahi kesepakatan untuk mengakhiri konflik terbesar di Eropa sejak 1945. Rusia, yang menginvasi Ukraina pada Februari 2022, telah terlibat dalam dua putaran pembicaraan sebelumnya di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, yang digambarkan konstruktif namun tanpa terobosan berarti.

Zelensky Bongkar Tekanan AS Mengejutkan
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Pertemuan trilateral selanjutnya dijadwalkan di Jenewa, Swiss, pekan ini. Zelensky berharap diskusi di Jenewa akan serius, substantif, dan bermanfaat. "Tetapi jujur saja, terkadang terasa seperti kedua pihak membicarakan hal-hal yang sama sekali berbeda. Amerika sering kembali ke topik konsesi, dan terlalu sering konsesi tersebut hanya dibahas dalam konteks Ukraina, bukan Rusia," tegas Zelensky.

Pemimpin Ukraina itu juga menekankan pentingnya kehadiran negara-negara Eropa di meja perundingan, sebuah gagasan yang ditentang Moskow. "Eropa praktis tidak hadir di meja perundingan. Menurut saya itu adalah kesalahan besar," ujarnya. Ia menegaskan bahwa perdamaian hanya bisa dibangun di atas jaminan keamanan yang jelas, dan tanpa sistem keamanan yang kokoh, perang akan selalu kembali.

Di antara isu-isu krusial yang paling kontroversial dalam perundingan adalah tuntutan Rusia agar Ukraina menarik penuh pasukannya dari bagian-bagian yang tersisa di wilayah timur Donetsk yang masih dikuasainya. Ukraina menolak penarikan sepihak, sambil juga menuntut jaminan keamanan Barat untuk mencegah Rusia melancarkan kembali invasi jika gencatan senjata tercapai. Zelensky menyebut AS mengusulkan jaminan keamanan 15 tahun, namun Ukraina menginginkan kesepakatan selama 20 tahun atau lebih.

Lebih lanjut, Zelensky mengungkapkan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin menentang penempatan pasukan asing di Ukraina. Ia mendesak Rusia untuk menerima misi pemantauan gencatan senjata dan pertukaran tawanan perang. Zelensky memperkirakan ada sekitar 7.000 tentara Ukraina di tangan Rusia, sementara Kyiv menahan lebih dari 4.000 personel Rusia.

Zelensky mengakui adanya "sedikit" tekanan dari Trump, yang pada Jumat lalu mendesaknya untuk tidak melewatkan "kesempatan" berdamai dan menyuruhnya segera bertindak. Ia juga menyerukan sekutu Ukraina untuk meningkatkan tekanan pada Rusia melalui sanksi yang lebih keras dan pasokan senjata yang lebih banyak. Zelensky yakin Trump memiliki kekuatan untuk memaksa Putin menyatakan gencatan senjata, yang diperlukan untuk mengadakan referendum kesepakatan damai.

Kekagetan juga diungkapkan Zelensky atas keputusan Rusia mengganti delegasi perundingan di Jenewa. Kremlin mengatakan delegasi Rusia akan dipimpin oleh penasihat Putin, Vladimir Medinsky, menggantikan kepala intelijen militer Igor Kostyukov yang memimpin negosiasi di Abu Dhabi. Zelensky menilai perubahan ini sebagai indikasi Rusia ingin menunda kesepakatan, mengingat Medinsky sebelumnya dikritik oleh pejabat Ukraina karena lebih banyak memberi "pelajaran sejarah" daripada terlibat dalam negosiasi konstruktif.

Menutup pidatonya, Zelensky mengecam Putin sebagai "budak perang" dan membandingkan situasi saat ini dengan Perjanjian Munich 1938. Saat itu, kekuatan Eropa membiarkan Hitler mengambil sebagian dari Cekoslowakia, yang berujung pada Perang Dunia II pada tahun berikutnya. "Akan menjadi ilusi untuk percaya bahwa perang ini sekarang dapat diakhiri secara definitif dengan membagi Ukraina, sama seperti ilusi untuk percaya bahwa mengorbankan Cekoslowakia akan menyelamatkan Eropa dari perang besar," pungkasnya, memperingatkan terhadap strategi appeasement.

Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Gunawati
Gunawati

kontributor International Media yang berfokus pada peliputan berita dari kawasan Amerika dan Eropa. Ia secara rutin menyajikan analisis mengenai kebijakan luar negeri, isu-isu sosial, dan perkembangan politik di negara-negara Barat.

Related Posts

Paus Leo XIV Desak Hentikan Pertumpahan Darah di Timur Tengah

25-03-2026 - 07.45

Terungkap Rencana Trump Ganti Pemimpin Iran

25-03-2026 - 07.30

Teheran Berdarah Balasan Israel Belasan Tewas

25-03-2026 - 07.15

Israel Bersumpah Terus Gempur Iran

25-03-2026 - 07.00

Horor di Langit Kolombia Pesawat Militer Jatuh

24-03-2026 - 23.15

Filipina Terancam Krisis Energi

24-03-2026 - 23.00
Leave A Reply Cancel Reply

Internationalmedia.co.id
  • Privacy
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak
  • Tentang

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.