Close Menu
  • Amerika
  • Asean
  • Asia
  • Eropa
  • Timur Tengah
Facebook X (Twitter) Instagram
  • Amerika
  • Asean
  • Asia
  • Eropa
  • Timur Tengah
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
Internationalmedia.co.idInternationalmedia.co.id
  • Amerika
  • Asean
  • Asia
  • Eropa
  • Timur Tengah
Internationalmedia.co.idInternationalmedia.co.id
Home » Terungkap Racun Katak Super Langka di Balik Kematian Navalny
Trending Indonesia

Terungkap Racun Katak Super Langka di Balik Kematian Navalny

GunawatiBy Gunawati15-02-2026 - 10.00Tidak ada komentar3 Mins Read2 Views
Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Telegram Tumblr Email
Terungkap Racun Katak Super Langka di Balik Kematian Navalny
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Internationalmedia.co.id – News – Pemerintah Inggris melontarkan tudingan serius yang mengguncang dunia politik internasional: pemimpin oposisi Rusia, Alexei Navalny, diyakini tewas akibat racun epibatidine, senyawa mematikan yang dikembangkan dari racun katak panah beracun yang sangat langka. Tudingan ini muncul dua tahun setelah kematian Navalny di koloni penjara Siberia, dengan Moskow secara tegas menolak temuan tersebut sebagai "kampanye informasi" belaka.

Menteri Luar Negeri Inggris, Yvette Cooper, pada Minggu (15/2/2026), mengumumkan temuan mengejutkan ini dalam pernyataan bersama yang dikeluarkan oleh Inggris, Swedia, Prancis, Jerman, dan Belanda. Setelah menganalisis sampel dari tubuh Navalny, Cooper menegaskan bahwa "hanya rezim Rusia yang memiliki kapasitas, motif, dan peluang" untuk menggunakan racun semacam itu saat Navalny berada dalam tahanan negara.

Terungkap Racun Katak Super Langka di Balik Kematian Navalny
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Cooper, yang juga sempat bertemu dengan istri Navalny, Yulia Navalnaya, menyoroti kejanggalan keberadaan racun tersebut. Epibatidine, menurutnya, secara alami hanya ditemukan pada katak panah beracun liar di Amerika Selatan, bukan di Rusia. "Tidak ada penjelasan masuk akal atas keberadaannya di tubuh Navalny," tegas Cooper, menepis klaim Kremlin yang menyebut ini sebagai upaya pengalihan isu.

Racun Mematikan yang "Hampir Mustahil" Ditemukan

Epibatidine, neurotoksin yang diyakini menjadi penyebab utama, dikenal memiliki potensi mematikan yang luar biasa. Pakar toksikologi Jill Johnson, dalam wawancaranya dengan BBC Rusia, menjelaskan bahwa racun ini "200 kali lebih ampuh daripada morfin." Bekerja pada reseptor di sistem saraf pusat, efeknya dapat memicu kedutan otot, kelumpuhan, kejang, detak jantung melambat, gagal napas, dan pada akhirnya, kematian.

Johnson lebih lanjut menjelaskan bahwa neurotoksin langka ini hanya dapat ditemukan dalam konsentrasi kecil pada spesies katak liar tertentu, dan itu pun bergantung pada pola makan spesifik mereka. Katak panah beracun yang dipelihara di penangkaran, misalnya, tidak menghasilkan racun ini. "Menemukan katak liar di lokasi yang tepat yang memakan makanan tertentu untuk menghasilkan alkaloid yang tepat hampir mustahil," ujarnya, menekankan betapa tidak lazim dan sulitnya metode peracunan semacam ini.

Respons Keras dari Moskow dan Warisan Navalny

Di sisi lain spektrum, Moskow, melalui juru bicara Kementerian Luar Negeri Maria Zakharova, menepis tuduhan tersebut dengan keras. Kantor berita Tass melaporkan bahwa Zakharova menyebut semua pembicaraan dan pernyataan ini sebagai "kampanye informasi yang bertujuan mengalihkan perhatian dari masalah-masalah mendesak Barat." Presiden Rusia Vladimir Putin, yang secara konsisten menghindari menyebut nama Navalny selama hidupnya, hanya memberikan komentar singkat sebulan pasca-kematiannya, menyebutnya sebagai "peristiwa yang selalu menyedihkan."

Alexei Navalny, seorang aktivis antikorupsi dan suara oposisi paling vokal di Rusia, meninggal mendadak pada usia 47 tahun di penjara Arktik pada 16 Februari 2024. Kematiannya terjadi saat ia menjalani hukuman penjara atas tuduhan yang banyak dianggap bermotif politik. Sebelumnya, pada tahun 2020, ia pernah diracuni dengan agen saraf Novichok, menjalani perawatan di Jerman, namun tetap memilih kembali ke Rusia dan segera ditangkap.

Sebagai langkah lanjutan, Kementerian Luar Negeri Inggris telah secara resmi memberitahukan Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (OPCW) mengenai dugaan pelanggaran Konvensi Senjata Kimia oleh Federasi Rusia. Perdana Menteri Inggris Keir Starmer memuji tekad Navalny dalam mengungkap kebenaran yang telah meninggalkan warisan abadi. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noël Barrot memberikan penghormatan kepada Navalny, yang menurutnya dibunuh karena perjuangannya untuk Rusia yang bebas dan demokratis. Yulia Navalnaya, istri Navalny, secara konsisten meyakini suaminya diracuni, dan kini merasa memiliki bukti kuat berkat analisis laboratorium Eropa.

Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Gunawati
Gunawati

kontributor International Media yang berfokus pada peliputan berita dari kawasan Amerika dan Eropa. Ia secara rutin menyajikan analisis mengenai kebijakan luar negeri, isu-isu sosial, dan perkembangan politik di negara-negara Barat.

Related Posts

Nyawa Tak Bersalah Melayang di Lebanon

25-03-2026 - 10.45

Raksasa Laut Amerika Terpaksa Mundur

25-03-2026 - 10.30

Amerika Kirim Ribuan Pasukan Elite Misteri Tujuan

25-03-2026 - 10.15

Iran Buka Selat Hormuz Syaratnya Tak Terduga

25-03-2026 - 10.00

Paus Leo XIV Desak Hentikan Pertumpahan Darah di Timur Tengah

25-03-2026 - 07.45

Terungkap Rencana Trump Ganti Pemimpin Iran

25-03-2026 - 07.30
Leave A Reply Cancel Reply

Internationalmedia.co.id
  • Privacy
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak
  • Tentang

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.