Internationalmedia.co.id – News, Jakarta – Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, dengan tegas menyatakan bahwa negaranya tidak akan tunduk pada "tuntutan berlebihan" terkait program nuklirnya. Pernyataan ini disampaikan pada hari Rabu (11/2/2026), di tengah kelanjutan dialog antara Teheran dan Amerika Serikat, serta peringatan ke-47 Revolusi Islam Iran.
Dalam pidatonya, Pezeshkian menegaskan, "Negara kita, Iran, tidak akan menyerah pada tuntutan berlebihan mereka." Ia menambahkan bahwa meskipun Iran menghadapi ancaman militer dari Amerika Serikat, Teheran tetap berkomitmen pada diplomasi. "Iran kita tidak akan menyerah dalam menghadapi agresi, tetapi kita terus berdialog dengan sekuat tenaga dengan negara-negara tetangga untuk membangun perdamaian dan ketenangan di kawasan ini," ujarnya, seperti dilansir kantor berita AFP.

Pezeshkian juga meyakinkan dunia bahwa Iran tidak memiliki ambisi untuk mengembangkan senjata atom. "Kita tidak berupaya memperoleh senjata nuklir. Kita telah menyatakan ini berulang kali dan siap untuk verifikasi apa pun," tegasnya, menunjukkan transparansi Iran terhadap program nuklirnya.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump memiliki pandangan yang berbeda. Trump mengklaim bahwa Iran sangat ingin mencapai kesepakatan nuklir. "Mereka akan bodoh jika tidak melakukannya," kata Trump kepada Larry Kudlow dari Fox Business, sebagaimana dikutip CNN. Ia bahkan menyebutkan adanya "armada besar saat ini yang menuju ke Iran," mengindikasikan tekanan militer yang signifikan.
Trump juga sesumbar telah "melumpuhkan kekuatan nuklir mereka terakhir kali" dan mengancam akan melakukan hal serupa jika Iran tidak menyetujui kesepakatan yang diinginkan AS. "Kita harus melihat apakah kita akan melumpuhkan lebih banyak lagi kali ini," ancamnya.
Presiden AS itu menekankan bahwa kesepakatan yang diinginkan haruslah "kesepakatan yang baik," yang mencakup larangan pengembangan senjata nuklir, rudal, dan berbagai persyaratan lainnya yang diajukan oleh Washington. Ketegangan antara kedua negara terkait isu nuklir ini terus menjadi sorotan global.

