Gelombang pengunduran diri pejabat tinggi di berbagai negara menjadi sorotan utama setelah rilisnya jutaan halaman dokumen terkait mendiang terpidana kejahatan seksual Jeffrey Epstein. Internationalmedia.co.id – News mencatat, publikasi data oleh Departemen Kehakiman Amerika Serikat ini telah memicu kegemparan global dan menyeret sejumlah nama besar ke dalam pusaran skandal yang tak terduga.
Rilis masif ini, yang terjadi pada akhir Januari lalu, bukan hanya sekadar tumpukan kertas. Lebih dari tiga juta halaman dokumen, ribuan video, dan ratusan ribu gambar kini tersedia untuk umum, mengungkap jaringan gelap Epstein dan orang-orang yang pernah berinteraksi dengannya. Sejak saat itu, implikasinya terasa di berbagai lini kekuasaan, memaksa beberapa figur penting untuk melepaskan jabatannya.

Salah satu kasus paling menonjol datang dari Norwegia, di mana Duta Besar untuk Yordania dan Irak, Mona Juul, secara mengejutkan mengundurkan diri. Juul, seorang diplomat senior yang dikenal atas perannya dalam negosiasi rahasia Israel-Palestina yang mengarah pada Perjanjian Oslo pada awal 1990-an, terseret setelah kontaknya dengan Epstein terungkap. Menteri Luar Negeri Norwegia, Espen Barth Eide, menyatakan bahwa pengunduran diri Juul adalah "keputusan yang tepat dan perlu," menyoroti "kesalahan penilaian serius" yang ditunjukkan oleh hubungannya dengan pelaku pelecehan tersebut.
Sebelumnya, Juul sempat diskors sementara sambil menunggu penyelidikan mendalam. Skandal ini semakin rumit dengan laporan media Norwegia yang menyebutkan bahwa Epstein meninggalkan warisan sebesar 10 juta dolar AS kepada dua anak Juul dari suaminya, sesama diplomat dan perantara perundingan Oslo, Terje Rod-Larsen. Pengacara Juul, Thomas Skjelbred, menjelaskan bahwa kliennya mundur karena "situasi yang kini dihadapinya membuatnya tidak mungkin untuk menjalankan tugasnya secara bertanggung jawab," menambahkan bahwa ini "telah menjadi beban pribadi yang sangat besar baginya dan keluarga dekatnya."
Pusaran skandal Epstein tak hanya berhenti pada Juul di Norwegia. Nama-nama besar lain seperti CEO Forum Ekonomi Dunia, Borge Brende, dan mantan Perdana Menteri Thorbjorn Jagland, juga sedang diselidiki atas dugaan "korupsi berat" terkait kasus ini. Bahkan, Putri Mahkota Norwegia Mette-Marit turut menjadi perhatian publik karena hubungannya dengan Epstein, yang ia sendiri akui "sangat disesali."
Sementara itu, di Inggris, tekanan serupa juga dirasakan di Downing Street. Tim Allan, Kepala Komunikasi Kantor Perdana Menteri Keir Starmer, mengundurkan diri di tengah guncangan skandal Jeffrey Epstein. Pengunduran dirinya menyusul Kepala Staf PM, Morgan McSweeney, yang juga telah lebih dulu melepaskan jabatannya, menciptakan kekosongan kepemimpinan di lingkaran dalam Starmer.
PM Starmer sendiri kini menghadapi seruan keras untuk mundur dari politisi oposisi. Hal ini dipicu oleh keputusannya menunjuk Peter Mandelson sebagai duta besar Amerika Serikat, meskipun ia mengetahui bahwa Mandelson tetap menjalin hubungan dengan Epstein bahkan setelah pengusaha AS itu dihukum pada tahun 2008. Meski demikian, Starmer bersikeras akan tetap menjabat, berjanji untuk "melangkah maju… dengan percaya diri" dan terus "mengubah negara ini," seperti yang diungkapkan seorang pejabat pemerintah kepada Internationalmedia.co.id.
Rangkaian peristiwa ini menegaskan betapa luasnya dampak dari jaringan kejahatan Jeffrey Epstein, yang bahkan setelah kematiannya pada tahun 2019, masih mampu mengguncang fondasi politik dan diplomatik di berbagai belahan dunia.

