Ketegangan diplomatik antara London dan Moskow kembali memuncak. Inggris secara resmi mengumumkan pengusiran seorang diplomat Rusia dari wilayahnya, sebuah langkah balasan tegas setelah Rusia lebih dulu mengusir diplomat Inggris bulan lalu atas tuduhan spionase. Internationalmedia.co.id – News melaporkan, insiden saling usir ini menandai babak baru dalam friksi kedua negara yang terus memanas.
Pemerintah Rusia sebelumnya menuduh diplomat Inggris tersebut sebagai "mata-mata yang tidak terdaftar", klaim yang oleh London disebut "tidak berdasar" dan "tidak beralasan". Tuduhan ini menjadi pemicu utama serangkaian aksi balasan yang kini terjadi.

Melalui pernyataan resminya, Kantor Urusan Luar Negeri Inggris (FCDO) mengonfirmasi langkah ini setelah memanggil Duta Besar Rusia di London. Seorang juru bicara FCDO menegaskan pada Senin (2/2) waktu setempat, "Kami tidak akan mentoleransi intimidasi terhadap staf Kedutaan Besar Inggris. Oleh karena itu, kami mengambil tindakan timbal balik hari ini dengan mencabut akreditasi seorang diplomat Rusia." FCDO juga secara eksplisit menolak tuduhan spionase Rusia terhadap diplomatnya, menyebutnya sebagai "tidak berdasar" dan pengusiran tersebut "tidak dapat dibenarkan".
London juga melayangkan peringatan keras kepada Moskow. "Setiap tindakan lebih lanjut yang dilakukan oleh Rusia akan dianggap sebagai eskalasi dan akan ditanggapi secara pantas," demikian ancaman juru bicara FCDO, mengindikasikan potensi memburuknya hubungan jika Rusia tidak menghentikan tindakan serupa.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari Kedutaan Besar Rusia di London terkait pengusiran diplomatnya. Keheningan ini menambah spekulasi mengenai langkah balasan yang mungkin akan diambil Moskow selanjutnya.
Insiden saling usir diplomat ini bukan yang pertama kali terjadi di tengah memanasnya hubungan Rusia dengan negara-negara Barat, terutama sejak invasi ke Ukraina. Tuduhan spionase telah meningkat secara drastis, mencapai intensitas yang belum pernah terlihat sejak era Perang Dingin. Para diplomat Barat di Moskow sendiri kerap melaporkan menjadi target pengawasan ketat dan pelecehan yang mengganggu, menciptakan iklim ketidakpercayaan yang mendalam di panggung diplomatik global.

