Internationalmedia.co.id – News – Sebuah serangan drone mematikan yang dilancarkan oleh pasukan Rusia menghantam sebuah bus yang mengangkut puluhan pekerja tambang di wilayah Dnipropetrovsk, Ukraina timur, pada Minggu (1/2) waktu setempat. Insiden tragis ini menyebabkan sedikitnya 12 orang tewas dan tujuh lainnya mengalami luka-luka, memicu keprihatinan mendalam atas keselamatan warga sipil di zona konflik.
Menurut keterangan kepolisian setempat yang dilansir AFP pada Senin (2/2), bus nahas tersebut sedang dalam perjalanan di sekitar Ternivka, sebuah kota yang berjarak sekitar 65 kilometer dari garis depan pertempuran, ketika drone musuh tersebut melancarkan serangannya. Oleksandr Ganzha, Kepala Administrasi Militer Regional Dnipropetrovsk, mengonfirmasi bahwa serangan itu berasal dari "drone musuh," merujuk pada kekuatan Rusia.

"Drone musuh menghantam dekat bus antar-jemput milik sebuah perusahaan di distrik Pavlograd," ujar Ganzha dalam pernyataannya via Telegram. "Data awal menunjukkan 12 orang tewas dan tujuh orang lainnya luka-luka." Pihak berwenang belum merinci jumlah pasti penumpang di dalam bus saat serangan terjadi.
DTEK, perusahaan energi swasta terbesar di Ukraina, mengonfirmasi secara terpisah bahwa para korban tewas adalah pekerja tambang yang baru saja menyelesaikan shift kerja mereka dan sedang dalam perjalanan pulang dari salah satu fasilitas tambang milik perusahaan di wilayah tersebut.
Foto-foto yang dirilis oleh layanan darurat negara Ukraina menunjukkan kondisi bus yang rusak parah, dengan jendela samping pecah dan kaca depan terlepas, mengindikasikan kekuatan ledakan yang dahsyat.
Tragedi ini bukan satu-satunya serangan drone yang terjadi pada hari yang sama. Di wilayah Dnipro, Ganzha sebelumnya melaporkan bahwa serangan drone pada malam hari telah menewaskan seorang pria dan seorang wanita. Selain itu, sebuah rumah sakit bersalin di Zaporizhzhia, Ukraina selatan, juga menjadi sasaran drone Rusia pada Minggu (1/2) pagi, melukai sedikitnya tujuh orang, termasuk dua wanita yang sedang menjalani pemeriksaan medis.
Serangkaian serangan ini terjadi bertepatan dengan berakhirnya jeda serangan sepihak oleh Rusia terhadap Ukraina, yang sebelumnya diumumkan oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Trump pada Kamis (29/1) pekan lalu mengklaim bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin telah menyetujui penghentian serangan sementara terhadap ibu kota Kyiv dan "berbagai kota" selama cuaca dingin melanda Ukraina. Namun, syarat pasti kesepakatan antara Trump dan Putin tersebut tidak jelas, dan Kremlin sendiri tidak pernah secara eksplisit mengaitkan jeda serangan dengan kondisi cuaca.

