Internationalmedia.co.id – News – Teheran mengambil langkah drastis, mendeklarasikan militer negara-negara Eropa sebagai ‘kelompok teroris’. Aksi balasan ini menyusul keputusan Uni Eropa yang lebih dulu melabeli Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran dengan sebutan serupa. Situasi ini memicu ketegangan diplomatik yang signifikan, dilaporkan pada Minggu (1/2/2026).
Dalam sesi legislatif yang penuh solidaritas, anggota parlemen Iran terlihat mengenakan seragam hijau Garda Revolusi. Mereka meneriakkan slogan-slogan anti-Amerika dan anti-Israel, serta mengecam Eropa. Ketua parlemen, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa berdasarkan Pasal 7 Undang-Undang tentang Tindakan Balasan Terhadap Deklarasi IRGC sebagai Organisasi Teroris, tentara Eropa kini resmi dianggap sebagai entitas teroris. Dampak langsung dari keputusan ini masih belum terurai jelas.

Undang-undang yang menjadi dasar tindakan Iran ini sebenarnya telah disahkan pada tahun 2019, kala Amerika Serikat pertama kali mengklasifikasikan Garda Revolusi sebagai organisasi teroris. Sidang parlemen tersebut bertepatan dengan peringatan ke-47 kembalinya mendiang Ayatollah Ruhollah Khomeini dari pengasingan, peristiwa yang menandai berdirinya republik Islam pada tahun 1979.
Garda Revolusi, sebagai sayap ideologis militer Iran, memiliki misi utama melindungi revolusi Islam dari ancaman internal maupun eksternal. Namun, badan ini dituduh oleh pemerintah Barat sebagai dalang di balik penindakan keras terhadap gelombang protes baru-baru ini, yang menyebabkan ribuan korban jiwa. Teheran sendiri menuding kekerasan tersebut sebagai ‘tindakan teroris’ yang dipicu oleh Amerika Serikat dan Israel.
Keputusan Uni Eropa untuk memasukkan IRGC sebagai ‘organisasi teroris’ disetujui Kamis lalu, sebagai respons langsung terhadap penindakan protes tersebut. Langkah ini sejalan dengan klasifikasi serupa yang telah diberlakukan oleh Amerika Serikat, Kanada, dan Australia. Ghalibaf mengkritik keras langkah Eropa, menyebutnya "mempercepat jalan Eropa menuju ketidakrelevanan dalam tatanan dunia masa depan" dan justru meningkatkan dukungan domestik untuk Garda Revolusi.
Di tengah ketegangan ini, Iran dan Amerika Serikat juga saling melontarkan peringatan dan ancaman terkait potensi aksi militer. Sebelumnya, tanggapan Teheran terhadap protes sempat mendorong Presiden AS Donald Trump untuk mengancam intervensi, bahkan mengirimkan kelompok kapal induk ke wilayah tersebut. Meskipun demikian, dalam beberapa hari terakhir, kedua belah pihak mengindikasikan kesediaan untuk berdialog, dengan Trump mengkonfirmasi adanya pembicaraan, meski tanpa menarik kembali ancaman sebelumnya.

