Internationalmedia.co.id – News – Jalur Gaza kembali dilanda horor serangan udara Israel pada Sabtu (31/1) waktu setempat, menewaskan sedikitnya 11 warga sipil dan melukai 20 lainnya. Insiden tragis ini terjadi di tengah periode gencatan senjata yang seharusnya membawa kedamaian, memicu kekhawatiran serius akan keberlanjutan kesepakatan tersebut. Serangan mematikan ini menyasar tenda-tenda pengungsian dan sebuah apartemen, tempat warga mencari perlindungan dari konflik berkepanjangan.
Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan Gaza, Munir al-Barsh, yang bernaung di bawah otoritas Hamas, mengonfirmasi jumlah korban kepada AFP. Ia menyebutkan bahwa serangan "pendudukan" ini secara langsung menargetkan warga sipil. Korban luka-luka segera dilarikan ke berbagai rumah sakit di Gaza City bagian utara dan Khan Younis di selatan Jalur Gaza, menambah beban pada fasilitas medis yang sudah kewalahan dan minim pasokan.

Kantor pers pemerintah Gaza melaporkan bahwa di antara korban tewas terdapat tujuh anggota dari satu keluarga yang berlindung di tenda pengungsian di wilayah selatan Jalur Gaza, termasuk seorang anak dan seorang lansia. Al-Barsh juga menyoroti pelanggaran serius Israel terhadap perjanjian gencatan senjata, yang diperparah dengan krisis pasokan medis, obat-obatan, dan peralatan yang sangat parah di wilayah tersebut.
Gencatan senjata, yang dimediasi oleh Amerika Serikat dan mulai berlaku sejak Oktober tahun lalu, telah memasuki fase kedua pada Januari ini. Kesepakatan tersebut seharusnya mencakup perlucutan senjata Hamas, penarikan bertahap pasukan Israel, serta pengerahan pasukan stabilisasi internasional. Namun, insiden terbaru ini menunjukkan betapa rapuhnya kesepakatan tersebut, dengan kedua belah pihak berulang kali saling menuduh melanggar ketentuan yang telah disepakati.
Sejak gencatan senjata diberlakukan, Kementerian Kesehatan Gaza mencatat total sedikitnya 509 orang telah tewas. Konflik berkepanjangan ini telah menyebabkan hampir seluruh penduduk Gaza mengungsi setidaknya sekali, dengan ratusan ribu orang kini terpaksa hidup di tenda-tenda atau tempat penampungan sementara. Sebagian besar Jalur Gaza telah hancur lebur akibat rentetan serangan Israel, memperparah kondisi wilayah yang sudah menderita akibat pertempuran sebelumnya dan blokade yang diberlakukan Tel Aviv sejak tahun 2007.
Secara keseluruhan, perang yang telah berlangsung selama dua tahun ini, menurut data Kementerian Kesehatan Gaza yang dianggap kredibel oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), telah merenggut lebih dari 71.769 nyawa di daerah kantong Palestina tersebut. Serangan terbaru ini hanya menambah daftar panjang penderitaan dan ketidakpastian bagi warga Gaza, serta mempertanyakan komitmen terhadap upaya perdamaian.

