Internationalmedia.co.id – News – Ketegangan di Timur Tengah mencapai puncaknya setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali melontarkan ultimatum tajam kepada Iran, memperingatkan bahwa "waktu hampir habis" bagi Teheran untuk menghindari potensi intervensi militer. Namun, respons dari Teheran justru menunjukkan sikap pantang mundur, menegaskan kesiapan untuk melancarkan perlawanan habis-habisan jika diserang.
Menurut laporan AFP pada Rabu (28/1/2026), Trump secara eksplisit menyatakan bahwa dirinya tidak pernah mengesampingkan kemungkinan serangan baru terhadap Iran. Pernyataan ini muncul menyusul penindakan brutal terhadap gelombang protes di Iran bulan ini, serta situasi kian memanas pasca perang 12 hari pada Juni lalu antara Iran dan Israel yang didukung dan diikuti oleh AS.

"Semoga Iran segera ‘Datang ke Meja Perundingan’ dan menegosiasikan kesepakatan yang adil dan merata—tanpa senjata nuklir—kesepakatan yang baik untuk semua pihak. Waktu hampir habis, ini benar-benar sangat penting!" tegas Trump. Merujuk pada serangan Amerika terhadap target nuklir Iran selama perang Juni yang menurutnya mengakibatkan "kehancuran besar Iran", ia menambahkan, "Serangan berikutnya akan jauh lebih buruk! Jangan sampai itu terjadi lagi."
Para analis menggarisbawahi opsi yang tersedia bagi AS, termasuk serangan terhadap fasilitas militer Iran atau serangan yang ditargetkan terhadap kepemimpinan di bawah Ayatollah Ali Khamenei, dalam upaya skala penuh untuk menjatuhkan sistem yang telah memerintah Iran sejak revolusi Islam 1979.
Iran Bantah Klaim Negosiasi dan Siap Melawan
Di sisi lain, otoritas Iran dengan tegas membantah pernyataan Presiden AS Donald Trump mengenai permintaan negosiasi. Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran, Abbas Araghchi, secara eksplisit menampik klaim tersebut, menegaskan bahwa pihaknya tidak pernah menghubungi Washington untuk dialog.
Seperti dilansir Reuters pada Rabu (28/1/2026), Araghchi mengatakan bahwa dirinya belum melakukan kontak dengan Utusan Khusus Trump untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, dalam beberapa hari terakhir atau mengajukan permintaan negosiasi. "Tidak ada kontak antara saya dan Witkoff dalam beberapa hari terakhir, dan tidak ada permintaan untuk negosiasi yang diajukan dari kami," kata Araghchi kepada media pemerintah Iran.
Meski demikian, Araghchi juga memperingatkan bahwa pasukannya "siap menembak" untuk "menanggapi dengan kuat" setiap serangan AS. Namun, di sisi lain, Araghchi juga membuka pintu bagi kesepakatan nuklir baru, menggunakan bahasa yang sangat mirip dengan Trump untuk menggambarkan kemungkinan kesepakatan untuk meredakan kebuntuan.
"Iran selalu menyambut baik KESEPAKATAN NUKLIR yang saling menguntungkan, adil, dan setara—dengan kedudukan yang sama, dan bebas dari paksaan, ancaman, dan intimidasi—yang menjamin hak Iran atas teknologi nuklir DAMAI, dan menjamin tidak ada senjata nuklir," tulis Araghchi di platform X (sebelumnya Twitter). Ia menambahkan, "Senjata semacam itu tidak memiliki tempat dalam perhitungan keamanan kami dan kami tidak pernah berupaya untuk memperolehnya."
Araghchi juga menegaskan kembali penegasan Teheran yang telah lama dipegang, yang ditolak oleh ibu kota Barat yang skeptis, bahwa program nuklirnya hanya berfokus pada penelitian dan pengembangan energi sipil.
Peringatan Keras dari Penasihat Pemimpin Tertinggi
Berbeda dengan nada Araghchi yang cenderung lebih diplomatis, Penasihat Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, justru menyuarakan peringatan yang jauh lebih keras yang mengancam konflik dan serangan terhadap sekutu AS, Israel.
"Serangan terbatas adalah ilusi," tulisnya di X. "Setiap tindakan militer, dari Amerika, dari asal mana pun dan pada tingkat berapa pun, akan dianggap sebagai awal perang, dan tanggapannya akan segera, habis-habisan, dan belum pernah terjadi sebelumnya, menargetkan jantung Tel Aviv dan semua pendukung agresor," sambungnya.
Iran Gencar Latihan Militer di Selat Hormuz
Di tengah retorika yang memanas ini, Iran tidak tinggal diam. Teheran kini gencar menggelar latihan perang di dekat Selat Hormuz, yang merupakan jalur perairan strategis di kawasan Teluk, sebagai respons terhadap ancaman serangan AS.
Sebelum latihan tembak itu digelar, seperti dilansir Anadolu Agency, Rabu (28/1/2026), otoritas Iran merilis Pemberitahuan kepada Penerbang (NOTAM) untuk navigasi udara pada Selasa (27/1) waktu setempat, dengan alasan adanya aktivitas militer melibatkan tembakan langsung di wilayah udara sepanjang Selat Hormuz.
Pemberitahuan NOTAM itu menyebut latihan tembak langsung di sekitar Selat Hormuz sebagai bagian dari latihan militer yang berlangsung antara 27 Januari hingga 29 Januari dalam area melingkar dengan radius lima mil laut, atau 9,2 kilometer. Wilayah udara di area tersebut, dari permukaan tanah hingga ketinggian 25.000 kaki, dinyatakan sebagai zona berbahaya selama latihan militer berlangsung. Latihan militer Iran di dekat Selat Hormuz ini bertepatan dengan manuver serupa yang dilakukan Angkatan Udara AS di kawasan Timur Tengah selama beberapa hari terakhir, menambah kompleksitas dan ketegangan di wilayah tersebut.

