Internationalmedia.co.id – News – Gerakan perlawanan Hizbullah di Lebanon secara tegas melayangkan peringatan keras kepada Amerika Serikat, mendesak agar Washington tidak mengambil langkah agresi militer terhadap Iran. Mereka menekankan bahwa tindakan semacam itu berpotensi memicu konflik regional yang meluas dan tak terkendali, bagaikan letusan gunung berapi.
Nawaf al-Moussawi, yang menjabat sebagai Kepala Bidang Perbatasan dan Sumber Daya di Hizbullah, dalam sebuah pernyataan pada Rabu malam waktu setempat, sebagaimana dilansir Press TV Iran, menegaskan bahwa setiap potensi tindakan militer dari AS, jika dilakukan, merupakan sebuah kesalahan perhitungan fatal. Ia secara gamblang memperingatkan bahwa hal tersebut akan "memicu letusan gunung berapi yang dahsyat di kawasan itu."

Peringatan keras ini mengemuka di tengah memanasnya retorika Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang belakangan ini secara terbuka mengancam akan melancarkan agresi militer terhadap Iran. Situasi semakin tegang dengan pengerahan kapal induk USS Abraham Lincoln beserta armada pengiringnya ke kawasan Asia Barat, dekat perairan Iran, sebuah langkah yang dinilai banyak pihak sebagai unjuk kekuatan.
Menurut Moussawi, Presiden Trump memiliki dua tujuan utama: mencapai kesepakatan baru dengan Iran atau, jika tidak berhasil, berupaya menggulingkan rezim yang berkuasa di Teheran. Analisis ini menunjukkan pemahaman Hizbullah terhadap strategi AS di kawasan tersebut.
Namun, pejabat tinggi Hizbullah tersebut menambahkan bahwa meskipun Washington memiliki kapasitas untuk melancarkan tindakan permusuhan, serangan semacam itu tidak akan cukup kuat untuk menjatuhkan pemerintahan Iran. Ini mengindikasikan keyakinan Hizbullah akan ketahanan dan kekuatan Iran dalam menghadapi ancaman eksternal.
Ketika disinggung mengenai potensi keterlibatan Hizbullah apabila serangan AS terhadap Iran benar-benar terjadi, Moussawi memberikan jawaban yang mengisyaratkan kesiapan, namun menahan diri untuk merinci lebih lanjut: "Kita akan membahasnya nanti." Pernyataan ini meninggalkan pertanyaan besar mengenai sejauh mana Hizbullah akan terlibat dan bagaimana hal itu akan mengubah dinamika konflik di Timur Tengah.

