Sebuah insiden tragis menyelimuti Kolombia baru-baru ini, ketika sebuah pesawat bermesin ganda yang membawa 15 orang, termasuk seorang anggota parlemen, jatuh di wilayah pegunungan terjal dekat perbatasan Venezuela. Seluruh penumpang dan awak dinyatakan tewas dalam kecelakaan memilukan ini, demikian konfirmasi dari otoritas di Bogota, ibu kota Kolombia. Dilansir dari Internationalmedia.co.id – News, peristiwa nahas ini terjadi di tengah kondisi geografis yang menantang.
Pesawat jenis Beechcraft 1900 tersebut, yang dioperasikan oleh maskapai penerbangan negara Satena, lepas landas dari Cucuta, kota perbatasan Kolombia. Penerbangan singkat yang seharusnya hanya memakan waktu 23 menit menuju Ocana itu, kehilangan kontak dengan menara pengawas lalu lintas udara sesaat sebelum jadwal pendaratan pada Rabu siang waktu setempat. Di dalamnya terdapat 13 penumpang dan dua awak pesawat.

Pejabat otoritas penerbangan, yang dikutip oleh kantor berita AFP, menegaskan bahwa "tidak ada yang selamat" dari insiden ini. Di antara korban tewas yang telah teridentifikasi adalah Diogenes Quintero, anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Kolombia berusia 36 tahun, serta Carlos Salcedo, seorang calon anggota DPR yang akan berkompetisi dalam pemilihan mendatang. Kehilangan dua figur politik ini menambah duka mendalam bagi bangsa Kolombia.
Hingga kini, penyebab pasti kecelakaan masih menjadi misteri dan dalam penyelidikan. Pemerintah Kolombia segera mengerahkan Angkatan Udara untuk melakukan operasi pencarian dan evakuasi di lokasi kejadian. Area tersebut dikenal sebagai bagian dari pegunungan Andes timur yang terjal, ditutupi hutan lebat, dan memiliki kondisi cuaca yang sangat tidak menentu, mempersulit upaya penyelamatan.
Wilayah pedesaan di sekitar lokasi jatuhnya pesawat juga diketahui berada di bawah kendali kelompok gerilyawan terbesar Kolombia, Tentara Pembebasan Nasional (ELN), meskipun belum ada indikasi keterlibatan mereka dalam insiden ini. Gubernur Negara Bagian Santander Utara, William Villamizar, kepada majalah berita lokal Semana, mengonfirmasi bahwa tujuh jenazah telah berhasil ditemukan sejauh ini.
Dengan bentang alam yang didominasi hutan lebat dan pegunungan bersalju, sebagian besar wilayah Kolombia memang sulit dijangkau melalui jalur darat. Hal ini menjadikan transportasi udara sebagai pilihan utama dan vital bagi mobilitas penduduk serta pejabat di negara tersebut, sekaligus menyoroti risiko yang melekat pada setiap penerbangan.

