Internationalmedia.co.id – News – Momen santai menikmati kopi di pagi hari berubah menjadi adegan mencekam bagi Ahmed al Ahmed, seorang pahlawan tak terduga dalam insiden penembakan massal di Pantai Bondi, Australia. Pria asal Suriah ini, dengan keberanian luar biasa, nekat merebut senjata dari salah satu pelaku yang tengah melancarkan aksi teror pada 14 Desember lalu. Peristiwa yang mengguncang Sydney ini kini menjadi saksi bisu aksi heroik Ahmed.
Ahmed, yang sehari-hari berprofesi sebagai penjual buah, awalnya hanya ingin menikmati secangkir kopi di pantai. Namun, suasana damai itu seketika pecah oleh suara tembakan. Tanpa pikir panjang, ia bersembunyi di balik mobil yang terparkir, mencari perlindungan dari hujan peluru. Namun, naluri untuk bertindak lebih kuat dari rasa takutnya.

Dengan perhitungan cepat, Ahmed perlahan mendekati salah satu penembak. "Target saya hanyalah untuk merebut pistol darinya, dan untuk menghentikannya dari membunuh nyawa manusia dan bukan membunuh orang-orang yang tidak bersalah," ujarnya kepada CBS News dalam sebuah wawancara. Ia melompat ke punggung pelaku, memegangnya erat dengan tangan kanan sambil berteriak, "Jatuhkan senjatamu, hentikan apa yang kau lakukan!" Dalam pergulatan itu, Ahmed terkena beberapa tembakan di bahunya, yang mengharuskannya menjalani serangkaian operasi.
"Saya tidak ingin melihat orang terbunuh di depan saya, saya tidak ingin melihat darah, saya tidak ingin mendengar suara senjatanya, saya tidak ingin melihat orang berteriak dan memohon, meminta bantuan," ungkap Ahmed, menjelaskan dorongan di balik tindakannya. Meskipun berhasil menyelamatkan banyak nyawa, ia mengaku masih merasakan kesedihan mendalam atas korban yang berjatuhan. "Saya tahu saya telah menyelamatkan banyak orang, tetapi saya merasa sedih atas kehilangan yang terjadi," tambahnya.
Ahmed, ayah dua anak yang berimigrasi ke Australia dari Suriah pada tahun 2007, kini menjadi simbol keberanian. Pamannya, Mohammed, yang merupakan seorang petani di kampung halaman Ahmed, menyatakan kebanggaannya. "Tindakannya adalah sumber kebanggaan bagi kami dan bagi Suriah," katanya. Pemerintah Australia pun tidak tinggal diam. Perdana Menteri Anthony Albanese secara terbuka memuji Ahmed sebagai seorang pahlawan, dan Menteri Dalam Negeri Tony Burke menegaskan, "Ahmed telah menunjukkan keberanian dan nilai-nilai yang kita inginkan di Australia." Proses visa untuk keluarganya pun dipercepat sebagai bentuk apresiasi.
Insiden penembakan tragis ini diketahui didalangi oleh ayah dan anak, Sajid dan Naveed Akram, yang menargetkan acara Hanukkah di Pantai Bondi, Sydney. Serangan anti-Semit ini menewaskan 15 orang dan melukai puluhan lainnya. Sajid Akram (50), warga negara India yang masuk Australia pada tahun 1998, tewas ditembak polisi saat berupaya menghentikan serangan. Sementara putranya, Naveed Akram (24), warga negara Australia kelahiran Australia, kini ditahan dan menghadapi dakwaan serius, termasuk terorisme dan 15 pembunuhan, serta menanam bom. Ia belum memberikan pernyataan pembelaan.
Kisah Ahmed al Ahmed menjadi pengingat akan kekuatan keberanian individu di tengah kengerian, mengubah secangkir kopi pagi menjadi babak baru dalam sejarah perjuangan melawan teror.
