Lelucon Trump Ungkit Sejarah Kelam Jepang di Gedung Putih
Internationalmedia.co.id – News – Sebuah momen tak terduga terjadi di Gedung Putih ketika Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan lelucon yang menyinggung serangan Pearl Harbor di hadapan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi. Pernyataan tersebut sontak mengubah raut muka PM Takaichi, menciptakan ketegangan dalam pertemuan kenegaraan yang seharusnya ramah.

Insiden ini bermula saat Trump, dalam sesi tanya jawab dengan wartawan di Ruang Oval Gedung Putih, Washington DC, Jumat (20/3/2026), menjelaskan alasan AS tidak memberitahu sekutunya sebelum melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari. "Kami tidak memberitahu siapa pun tentang itu karena kami menginginkan kejutan. Siapa yang lebih tahu tentang kejutan daripada Jepang, oke?" ujar Trump, seperti dilaporkan AFP. Kemudian, dengan tatapan mengarah ke PM Takaichi, Presiden berusia 79 tahun itu menambahkan, "Mengapa Anda tidak memberi tahu saya tentang Pearl Harbor, oke?"
PM Takaichi, yang mendengarkan melalui penerjemah, tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Namun, ekspresinya jelas menunjukkan ketidaknyamanan; ia terlihat menahan desahan kecil sambil sedikit bergeser di kursinya, bahkan terdengar erangan samar di tengah kerumunan wartawan AS dan Jepang yang memadati ruangan. Meskipun disampaikan dengan nada ringan, lelucon Trump ini berpotensi memicu keresahan di Jepang, sebuah negara yang kini menjadi sekutu strategis dan kuat bagi Amerika Serikat.
Kilas Balik Sejarah Sensitif Pearl Harbor
Untuk diketahui, serangan Pearl Harbor merupakan peristiwa kelam dalam sejarah kedua negara. Pada 7 Desember 1941, Kekaisaran Jepang melancarkan serangan mendadak ke pangkalan utama Angkatan Laut AS di Pearl Harbor, Hawaii. Serangan ini bertujuan melumpuhkan armada Pasifik AS sebelum Amerika Serikat secara resmi terlibat dalam Perang Dunia II. Lebih dari 2.400 warga Amerika tewas, sebuah tragedi yang oleh Presiden Franklin D. Roosevelt disebut sebagai "hari yang akan hidup dalam kehinaan". Sebagai balasan, AS mengakhiri Perang Dunia II dengan menjatuhkan dua bom atom di Jepang, peristiwa tunggal penggunaan senjata nuklir dalam sejarah.
Sejarah perang ini masih menjadi topik yang sangat sensitif bagi Jepang, meskipun selama puluhan tahun terakhir, Tokyo telah membangun aliansi yang kuat dan erat dengan Washington, berupaya meninggalkan bayang-bayang konflik masa lalu. PM Takaichi sendiri dikenal dengan pandangan nasionalisnya yang kuat, pernah menyatakan bahwa Jepang bertempur dalam perang tersebut untuk membela diri dan telah terlalu sering meminta maaf kepada negara-negara Asia yang terdampak.
Bukan Kali Pertama Trump Melontarkan Sindiran Sejarah
Ini bukan kali pertama Trump melontarkan sindiran terkait Perang Dunia II. Tahun lalu, saat bertemu dengan Kanselir Jerman Friedrich Merz, Trump pernah berujar bahwa pendaratan pasukan Sekutu pada D-Day di Prancis yang diduduki Nazi "bukanlah hari yang menyenangkan bagi Anda." Merz kala itu merespons dengan bijak, menegaskan bahwa Jerman berhutang budi kepada Amerika karena pada akhirnya, peristiwa tersebut merupakan "pembebasan negara saya dari kediktatoran Nazi."
Lelucon tentang Pearl Harbor ini muncul dalam konteks penjelasan Trump mengenai serangan terhadap Iran. Ia membenarkan tindakan tersebut dengan klaim bahwa Teheran akan segera memiliki senjata nuklir—sebuah klaim yang tidak didukung oleh badan pengawas nuklir PBB maupun mayoritas pengamat internasional. Trump juga menyerukan agar rakyat Iran menggulingkan pemerintahan ulama mereka, meskipun secara resmi, perubahan rezim belum ditetapkan sebagai tujuan kebijakan AS.
Insiden ini menyoroti gaya diplomasi Trump yang kerap kontroversial, di mana humornya terkadang menyentuh luka sejarah yang masih sensitif, bahkan di tengah hubungan aliansi yang kuat.

