Setelah Iran, Trump Bidik Negara Ini
Internationalmedia.co.id – News, Jakarta – Di tengah pusaran konflik yang belum usai dengan Iran, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali membuat pernyataan mengejutkan. Sebuah isyarat kuat mengemuka bahwa Kuba, negara kepulauan di Karibia, kini masuk dalam daftar target potensial AS untuk intervensi militer berikutnya. Informasi ini dirangkum oleh Internationalmedia.co.id – News pada Sabtu, 7 Maret 2026.

Pernyataan kontroversial tersebut disampaikan Trump saat menerima kunjungan tim sepak bola Inter Miami, juara Major League Soccer 2025, di Gedung Putih pada Kamis, 5 Maret. Dalam kesempatan itu, Trump secara eksplisit menyebutkan bahwa aksi militer di Kuba bisa saja terjadi setelah pemerintahannya menuntaskan "perang" melawan Iran. "Kami pikir kami ingin menyelesaikan yang ini (perang Iran) terlebih dahulu, tetapi itu hanya masalah waktu, sebelum Anda dan banyak orang luar biasa akan kembali ke Kuba," ujar Trump di hadapan hadirin yang mayoritas keturunan Kuba dari Miami. Ia juga tak lupa mengapresiasi Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, atas "pekerjaan fantastisnya" di Kuba, merujuk pada pengetatan sanksi ekonomi yang diterapkan AS.
Sinyal ini mengindikasikan bahwa Trump tengah mempertimbangkan langkah kebijakan luar negeri yang signifikan, kurang dari seminggu setelah eskalasi konflik di Timur Tengah. Selama ini, Trump dan sekutunya memang kerap menekan Havana melalui sanksi ekonomi dengan tujuan menggulingkan pemerintahan komunis Kuba. "Apa yang terjadi dengan Kuba sungguh luar biasa," tambahnya, menggambarkan situasi di negara tersebut.
Sebelumnya, Trump juga membanggakan kekuatan militer AS dan Israel dalam "menghancurkan musuh sepenuhnya" di Iran. Retorika serupa pernah ia gunakan di Amerika Latin. Setelah penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dalam operasi militer AS pada Januari lalu, Trump memutus total pasokan minyak Venezuela ke Kuba, sebuah jalur ekonomi vital bagi negara yang telah dihantam rentetan sanksi berat AS. Ia bahkan pernah menyebut Kuba tampak "siap untuk jatuh" dalam waktu dekat.
Intervensi militer AS di Venezuela, yang menewaskan puluhan orang, serta operasi terhadap kapal-kapal penyelundup narkoba di Amerika Latin, seringkali dianggap ilegal menurut hukum internasional. Namun, Trump tampak acuh tak acuh terhadap batasan-batasan tersebut. "Kita telah meraih kesuksesan luar biasa dalam berbagai hal. Saya telah membangun militer dan membangun kembali pada masa jabatan pertama saya, dan kita telah menggunakannya, lebih dari yang saya inginkan, jujur saja, tetapi ketika kita menggunakannya, kita mendapati bahwa itu memang berhasil," tegasnya, merujuk pada efektivitas intervensi militer AS di berbagai belahan dunia.
Pernyataan-pernyataan ini menegaskan pola kebijakan luar negeri Trump yang agresif dan tidak ragu menggunakan kekuatan militer untuk mencapai prioritasnya, bahkan ketika dunia masih menanti penyelesaian konflik yang sedang berlangsung.

