Kyiv, ibu kota Ukraina, diguncang ledakan dahsyat akibat serangan rudal balistik sebelum fajar pagi ini. Peristiwa mencekam ini terjadi hanya dua hari menjelang peringatan empat tahun invasi Rusia. Internationalmedia.co.id – News melaporkan dari AFP, Minggu (22/2), serangkaian ledakan keras terdengar sekitar pukul 04.00 pagi waktu setempat, tak lama setelah peringatan serangan udara dikeluarkan di seluruh wilayah.
Kepala administrasi militer Kyiv, Tymur Tkachenko, melalui akun Telegramnya, menegaskan bahwa "musuh menyerang ibu kota dengan senjata balistik." Ia mendesak warga untuk tetap berada di tempat perlindungan demi keselamatan. Serangan tersebut juga dilaporkan menyebabkan kebakaran di atap sebuah bangunan tempat tinggal, menambah ketegangan di tengah kegelapan pagi yang dingin.

Menyusul serangan di Kyiv, angkatan udara Ukraina segera memperluas peringatan serangan rudal ke seluruh negeri, menandakan ancaman yang lebih luas dan tidak terbatas. Kewaspadaan juga ditingkatkan secara signifikan di sepanjang perbatasan barat Ukraina. Komando Operasional Polandia bahkan mengerahkan jet tempur mereka setelah mendeteksi "penerbangan jarak jauh Federasi Rusia yang melakukan serangan di wilayah Ukraina," menunjukkan respons regional terhadap eskalasi konflik.
Insiden ini terjadi hanya beberapa jam setelah ledakan lain mengguncang Lviv, sebuah kota di bagian barat dekat perbatasan Polandia yang relatif jarang menjadi sasaran serangan mematikan. Ledakan di Lviv terjadi sekitar pukul 00.30 pagi (Sabtu malam), menghantam jalan perbelanjaan pusat. Seorang polisi wanita tewas dan 15 orang lainnya terluka setelah petugas menanggapi laporan pembobolan. Walikota Andriy Sadovyi dengan tegas menyebut insiden ini sebagai "tindakan terorisme," meskipun rincian mengenai pelaku belum diungkapkan kepada publik.
Serangan-serangan semacam ini, yang jauh dari garis depan pertempuran utama, memang telah menjadi semakin sering terjadi selama dua tahun terakhir konflik, menggarisbawahi meluasnya dampak perang di seluruh wilayah Ukraina dan meningkatkan kekhawatiran akan eskalasi lebih lanjut menjelang peringatan invasi.

