Angka korban tewas akibat bentrokan berdarah di kota Sweida, Suriah, terus meningkat. Internationalmedia.co.id melaporkan bahwa jumlah korban jiwa telah mencapai 89 orang, menurut laporan terbaru. Bentrokan antara kelompok Druze dan suku Bedouin ini telah memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik di wilayah tersebut.
Pertempuran yang dimulai pada Minggu lalu, kembali berkecamuk pada Seninnya. Laporan dari media lokal Sweida24 menyebutkan bentrokan yang sangat sengit. Insiden ini merupakan kekerasan mematikan terbesar di wilayah tersebut sejak April dan Mei lalu, di mana puluhan orang tewas dalam pertempuran antara komunitas Druze dan pasukan keamanan.

Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (Syrian Observatory for Human Rights) memberikan rincian mengerikan mengenai korban jiwa. Mereka menyebutkan bahwa korban tewas tidak hanya terdiri dari pejuang Druze dan Bedouin, tetapi juga warga sipil dan personel keamanan Suriah yang dikerahkan untuk meredakan situasi. Rinciannya meliputi 46 pejuang Druze, empat warga sipil, 18 pejuang Bedouin, 14 personel keamanan, dan tujuh orang tak dikenal yang mengenakan seragam militer.
Akibat bentrokan ini, jalan raya utama yang menghubungkan Damaskus dan Sweida ditutup sementara. Gubernur Sweida, Mustapha al-Bakur, menyerukan warga untuk menahan diri dan merespon seruan reformasi nasional. Para pemimpin spiritual Druze juga meminta semua pihak untuk tetap tenang dan mendesak pemerintah Damaskus untuk segera turun tangan. Kantor berita Suriah, SANA, melaporkan bahwa pasukan keamanan telah dikerahkan ke perbatasan administratif antara Provinsi Daraa dan Sweida.
Sebelum perang saudara Suriah, populasi Druze diperkirakan mencapai 700.000 jiwa, dengan Provinsi Sweida sebagai pusat komunitas terbesar mereka. Ketegangan antara komunitas Bedouin dan Druze telah lama berlangsung di Sweida, dengan insiden kekerasan yang kerap terjadi. Situasi ini menimbulkan pertanyaan besar tentang masa depan perdamaian dan stabilitas di wilayah tersebut.
