Insiden mengerikan terjadi di Jalur Gaza. Internationalmedia.co.id melaporkan sedikitnya 25 warga Palestina tewas akibat serangan udara dan tembakan pasukan Israel pada Sabtu dini hari (26/7). Yang lebih memilukan, mayoritas korban tewas saat tengah menunggu bantuan kemanusiaan.
Laporan dari staf rumah sakit Shifa, yang dikutip oleh Associated Press dan AFP, menyebutkan bahwa sebagian besar korban terkena tembakan saat berada di dekat perlintasan perbatasan Zikim. Mereka tengah mengantre untuk menerima bantuan. Badan pertahanan sipil Gaza juga mengkonfirmasi insiden tersebut, menyatakan pasukan Israel menembaki warga yang sedang menunggu bantuan di barat laut Gaza City. Saksi mata mengungkapkan ribuan orang berkumpul di area tersebut.

Salah satu saksi, Abu Hamir Hamoudeh, menuturkan militer Israel melepaskan tembakan saat warga mendekati titik distribusi bantuan dekat pos militer Israel di area Zikim. Selain tembakan, serangan udara juga menewaskan empat warga Palestina di area Al-Rimal, Gaza City. Satu korban lainnya tewas akibat serangan drone dekat Khan Younis, sementara satu lagi tewas akibat tembakan artileri di kamp Al-Bureij.
Pihak militer Israel hingga saat ini belum memberikan pernyataan resmi terkait insiden tersebut. Serangan mematikan ini terjadi di tengah terhentinya perundingan gencatan senjata antara Israel dan Hamas. Amerika Serikat, yang bertindak sebagai mediator, bersama dengan Tel Aviv menarik tim negosiator mereka pada Kamis (24/7). Langkah ini membuat masa depan perundingan menjadi semakin tidak pasti.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan pemerintahnya sedang mempertimbangkan "opsi alternatif" terkait perundingan gencatan senjata. Sementara itu, pejabat Hamas menyebut penarikan delegasi AS dan Israel sebagai taktik tekanan dan memperkirakan perundingan akan dilanjutkan pekan depan. Mesir dan Qatar, yang juga terlibat dalam mediasi, menyatakan jeda perundingan bersifat sementara.

