Ketegangan di Timur Tengah mencapai puncaknya setelah serangkaian serangan yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran. Sejak Sabtu, 28 Februari, serangan ini menargetkan berbagai fasilitas penting Iran, termasuk pusat komando Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), lokasi peluncuran rudal dan drone, lapangan terbang militer, serta sistem pertahanan udara. Internationalmedia.co.id – News melaporkan bahwa eskalasi ini telah menimbulkan korban jiwa dan memicu respons keras dari Teheran.
Dampak serangan ini sangat memilukan. Kedutaan Besar Republik Islam Iran untuk RI mengumumkan bahwa lebih dari 555 warga sipil tewas, dengan 200 di antaranya adalah anak-anak sekolah dasar. Dubes Iran untuk RI, Mohammad Boroujerdi, menyoroti bahwa banyak korban adalah masyarakat sipil yang sedang menjalankan ibadah puasa. Selain itu, serangan ini juga merenggut nyawa pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Istrinya, Mansoureh Khojasteh Bagherzadeh, juga meninggal dunia setelah sempat koma akibat luka-luka yang diderita.

Menyusul kematian Khamenei, Iran dengan cepat menunjuk ulama senior Ayatollah Alireza Arafi sebagai pemimpin tertinggi sementara. Arafi akan memimpin Dewan Kepemimpinan Sementara bersama Presiden Masoud Pezeshkian dan Kepala Kehakiman Gholamhossein Mohseni Ejei, hingga Majelis Pakar memilih pemimpin tetap. Boroujerdi juga menegaskan bahwa serangan ini membuktikan AS dan Israel tidak menghormati diplomasi atau negosiasi, bahkan saat perundingan sedang berlangsung, yang ia sebut sebagai tindakan "penjarahan."
Iran tidak tinggal diam. Garda Revolusi Iran mengklaim telah melancarkan serangan rudal balistik Kheibar yang menargetkan kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan markas komandan angkatan udara Israel. Rudal Kheibar, yang pertama kali diluncurkan pada tahun 2022, dikenal memiliki jangkauan dan akurasi yang tinggi. Tak hanya itu, militer Iran juga mengumumkan serangan terhadap pangkalan udara AS Ali Al Salem di Kuwait dan kapal-kapal musuh di Samudra Hindia bagian utara menggunakan 15 rudal jelajah.
Yang lebih mengkhawatirkan, Iran mengakui bahwa salah satu fasilitas nuklirnya, Natanz, yang merupakan kompleks pengayaan uranium terbesar, juga terkena serangan. Duta Besar Iran untuk Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Reza Najafi, mengonfirmasi hal ini dalam pertemuan dewan gubernur IAEA, menimbulkan pertanyaan serius tentang potensi bahaya dan stabilitas regional.
Dari Washington, Presiden AS Donald Trump memberikan pernyataan tegas. Ia tidak mengesampingkan kemungkinan pengerahan pasukan darat ke Iran jika diperlukan, berbeda dengan presiden terdahulu. Trump juga menyebut bahwa "gelombang besar" konflik belum terjadi dan pemerintahannya masih belum mengetahui siapa pemimpin tertinggi baru Iran setelah pembunuhan Khamenei. "Gelombang besar akan segera datang," ujarnya, seraya menambahkan ketidakpastian mengenai kepemimpinan baru di Teheran.

